jump to navigation

Bongkar Pasang Motherboard Dan Memblenya 865PERL February 12, 2009

Posted by Yohan in : Informasi-Tekhnologi , 3comments

Dua hari ini saya sibuk membongkar kembali komputer yang saya pakai selama ini, memang tidak ada kerusakan sama sekali. Sebenernya memang saya hendak membawa pulang komputer untuk beraktivitas di kampung halaman, walau saya kudu bolak balik ke Jakarta namun rasanya membuat diri saya semakin menikmati apa yang namanya avonturir. Memang mengasyikan jika kita selalu punya pengalaman menjelajahi negeri tercinta ini, walaupun negeri ini ada yang menganggap negeri seribu mumet

Komputer yang saya bawa pulang itu memang komputer tidak seberapa kemampuannya, hanya Pentium 4 1,8 GHz dengan motherboard Asus P4S533, RAM 1 GB, Hardisk Seagate 80 GB dan 40 GB PATA, beserta dengan sound card soundblaster live, converter PCI To PCMCIA, dan DVD ROM MSI, tak lupa monitor Samsung 551v. Berhubung sampai hari ini laptop saya yang jatuh dulu tidak bisa diperbaiki karena tidak ada sparepartnya. Dhuh ! Jadi selama berbulan-bulan ini saya tidak menikmati apa namanya laptop secara mempribadi, kalo menikmati laptop untuk membelikan untuk teman dan sodara, itu sudah biasa, namun tetap ada perbedaannya.

Alhasil saya terpaksa memakai komputer desktop untuk melakukan tugas kantor dulu dan lain lain. Keterpaksaan ini membuat saya semakin rajin merawat komputer itu sebagai nyawa kedua dalam berinteraksi dengan dunia komputer dan internet. Malah komputer itu saya paksa untuk kerja rodi, jarang-jarang komputer itu saya matikan, ketika mau tidur komputer ditinggal begitu saja, pergi ke kantor, ke Jakarta, ke tempat teman, komputer tetap saya tinggal dalam keadaan hidup. Ada yang bilang komputer itu tahan banting dan hendak dibelinya namun saya tidak mau melepaskan, walaupun menggunakan tekhnologi lawas, namun cukup membantu saya mengurangi beban pekerjaan.

Saatnya CPU kudu dibongkar dan diganti dengan Pentium 4 juga dengan Prosesor 2,4 GHz dan motherboard Intel 865PERL, RAM 256 MB + 128 MB, Hardisk 80 GB, TV Tuner dan monitor 14 inch analog. Ya karena saya hendak agak lama di kampung, rumah terpaksa saya serahkan ke teman untuk menjaga. Sudah menjadi kebiasaan bahwa rumah saya menjadi markas bagi teman-teman yang nongkrong dan ngobrol-ngobrol sambil membahas bahan bakar air, kalau tidak saya tinggali komputer kok merasa kasihan dan teman-teman rasanya malas kalo tidak ada komputer. Memang mereka ingin ada internet, namun berhubung saya sendiri saat ini membutuhkan akses internet untuk mendukung rencana usaha, mereka kudu mengerti. Malah kemaren sempat mau berantem ada orang yang tiba-tiba nylonong masuk dan suruh ninggalin modem dan koneksinya, itupun ngomongnya keras dan membuat seisi rumah kaget.

“Enak aja luh, guwe langganan internet buat guwe pribadi, yang bayar guwe yang make situ” balas saya tak lalah keras. Saya memang hari-hari terakhir sering tersinggung gara-gara orang bertamu ke rumah saya dengan tujuan yang tidak bersahabat, seperti ingin meminta hape saya, komputer, dan barang-barang lain. Enak aja ! Mentang-mentang saya mau dapat uang jasa “dipecat” dan ingin minta bagian.

“Kalo mau pesangon undur diri saja. ngapain minta-minta guwe, emang guwe bapakmu apa?”. saya tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya sikapnya berbeda, kata teman saya sekarang sudah nggak pake plin plan segala seperti saya masih bekerja dulu, berhubung saya sudah tidak bekerja lagi ya saya kudu pintar-pintar mengatur diri. Saya bekerja membeli komputer dengan susah payah namun orang datang ke rumah maunya minta hardisk, cd rom, dan lain lain yang tidak terpakai, bahkan modempun hendak diembat. Saya cukup prihatin dengan orang-orang seperti itu, hendak membeli komputer untuk anaknya saja membuat seribu satu alasan dengan tidak punya duit. Kalo memang nggak punya duit ya nggak usah beli komputer. Maunya saya memberi gratis. Halah !

Lha ini malah ngomong emosi bukan mobo memble yak ? Ah. Maaf kalo saya terbawa emosi.

Setelah motherboard dan segala atribut wajib lainnya terpasang, saya coba menghidupkan. Alamak ! masih kalah sama komputer yang sudah turun tahta dari meja tadi. Bahkan saya memberi RAM 1 GB pun tetap saja tidak maksimal dalam bekerja. Saya kudu berpikir komputer ini kudu bisa dipakai, biar teman-teman tetap ngumpul di rumah saya ketika saya sedang enjoy di kampung. Biar pada belajar ngetik, main game, bikin undangan, setidaknya mereka bisa semakin mahir mengoperasikan komputer. Saya kudu memaklumi karena motherboard itu sudah pernah kerendam air setengahnya saat kantor saya kebanjiran. Namun tetap masih mau beroperasi. Masih mampu menjalankan Windows XP SP2.

Padahal kalo menilik chipsetnya yang Springdale alias 865 tentunya mumpuni, ya karena sudah pernah kerendam air mau apalagi. Mau beli motherboard, aduh ! stok uang saya menipis dratis, pengeluaran tetap, penghasilan minim, udah gitu ada orang minta hape, modem, komputer, srudak sruduk masuk rumah saya tanpa mengucapkan salam. waduh kok kejam amat yak. rencananya bulan depan saya balik, motherboard tersebut saya pensiunkan dan menjadi barang koleksi, kasihanlah, mosok motherboard sudah payah bekerja masih mau dipekerjakan.