jump to navigation

Masakan Jamur : Pondok Makan ABBII February 21, 2009

Posted by Yohan in : Wisata Kuliner , 3comments

Hari terasa suntuk saat itu, Rabu tanggal 18 Februari, langit masih terselimuti mendung walau sedikit-dikit matahari malu menampakan diri. Saya teringat janji dengan Romo Kirjito, budayawan dari lereng Merapi yang mengundang saya untuk bertemu dan kebetulan juga ada acara live in di alam terbuka dengan mahasiswa Unika Atmajaya Yogyakarta dengan tema “Asah Pikir Kepemimpinan Tuk Mancur”yang akan saya tulis setelah postingan tentang masakan jamur, jadilah klop dengan acara itu karena saya sendiri menyukai kegiatan yang bersifat travelling atau petualangan apalagi merambah kawasan hutan.

Namun ditengah jalan saya teringat janji dengan teman untuk mampir ke pondoknya yang membuka pondok makan yang notabenen masakan adalah jamur. Pemilik pondok makan ABBII tersebut adalah teman saya sendiri, kebetulan rumahnya di belakang rumah saya. Saya tak tahu persis seperti apa masakan jamur, karena seumur-umur saya tidak makan jamur. Naik bis dari Magelang kemudian turun di depan jalan masuk Pondok Pesantren Pabelan. Disitulah pondok makan serba jamur terdapat.

abbii

Tempatnya pas di pinggir jalan Magelang Yogya, dekat pertigaan Pal Bapang. Tempatnya yang bener-bener seperti pondok yang menggunakan bambu, bukan bangunan batu bata dan dan di belakang pondok tersebut terdapat persawahan sehingga ada perasaan yang menyegarkan karena hembusan angin sepoi-sepoi.

panggung

pondok

Saya diterima dengan ramah oleh Pak Agus ismail dan istrinya yang merupakan pemilik pondok makan serba jamur tersebut. Ceritanya Pak Agus membuka usaha ini dengan menjual rumahnya dan kemudian dibelikan sebidang tanah disitu dan mendirikan pondok makan ini. Pondok makan ini mempunyai sekitar 18 pegawai yang notabene tinggal di sekitar pondok makan. Saya ingin mencoba masakan jamur, mumpung lagi demen wisata kuliner saat pulang kampung dalam waktu tak terbatas. Sebelum naik lereng Merapi, jamur pun jadi santapan pembuka perjalanan. Tak lama kemudian saya disuguhi masakan khas jamur, nasi goreng jamur dengan jamur tepung goreng.

porsi

Seperti biasa, rokok kesukaan saya Star Mild ikut mejeng bersama hape CDMA Qualcom. Entah dorongan apa membuat saya masih ada niat makan, padahal sebelum berangkat saya sempat makan dulu. Nasi goreng jamur.. sttt .. bukan nasi goreng berjamur lho :D . Rasanya bener-bener nikmat, rasa jamur yang pas dan rasanya malah seperti daging. Sesekali mengamit jamur tepung goreng yang rasanya tak jauh dengan fried chicken. Sayang saya merasa tak kuat melahap semua itu karena perut sudah tak bisa diajak kompromi, nasi goreng itupun tandas juga ke dalam perut saya dan kebetulan hujan turun dengan derasnya, rasanya kenyang banget plus puas. Belum ditambah teh manis plus rokok. Wah nikmat !

kosong

Entahlah kenapa saya mempunyai nafsu makan besar di saat pulang kampung ini. Terlihat hanya ada sisa mentimun yang tidak saya habiskan. Sedang gorengan jamur tidak saya habiskan. Sambil mengobrol dengan Pak Agus, saya melihat keprihatinan beliau dalam membangun usahanya yang tak ringan di jaman yang serba sulit ini. Sebagai seorang kawan, saya mengajaknya sharing. Pak Agus masih juga memancing saya untuk mengajak usaha bersama dalam bidang komputer.

agus ismail

Yang tidak mengherankan bagi saya dengan Pak Agus ini, saya sudah bisa menebak perawakannya yang kecil tidak segemuk sebagaimana seorang juragan pada umumnya. Memang sebenarnya tidak ada hubungannya antara juragan dengan gemuk, namun kebanyakan juragan diapresiasikan sebagai orang gemuk yang bisa diartikan subur badannya, subur juga kantongnya, sekaligus kalo bisa bolong kantongnya sehingga kawan dekat bisa kecipratan rejeki :D . Agak kaget juga sebelum membangun usaha ini. Pak Agus pernah mengadu nasib di Jakarta, malah nyari-nyari saya namun tak ketemu. Belum punya trik kali, untuk mencari saya, untuk menghubungi saya, kagak usah jauh-jauh, pakai google dah cukup. Blog ini sudah terindeks oleh google, apalagi nama saya, bertaburan di mana-mana. Mungkin itu lebih baik kawan, jika dulu sampeyan ketemu saya dan mengajak usaha komputer sampeyan tak sesukses sekarang. Jadi orang komputer iku mlarat Kang, malah ora penak. Saya malah didamprat dikira menakutinya agar tidak terjun dalam dunia komputer. Lah piye maneh, soale Pak Agus ini orangnya suka komputer.

Nasi goreng dengan jamur goreng tersebut masing-masing seharga Rp. 6000, jadi saya kudu membayar Rp.12.000 plus teh manis panas, masakan jamur yang lain harganya juga tak jauh beda. Namun oleh Pak Agus saya digratisin. Saya malah mengejek dalam hati, ini sogokan terbalik. Artinya saya digratisin dulu agar mau membuka peluang kerja sama. Walah ! pengangguran kek kayak gini kok diajak kerja sama.

Di pondok ini terdapat berbagai masakan jamur, dari tongseng jamur, cah jamur, oseng-oseng jamur, pokoknya serba jamur, namun juga sediakan masakan lain seperti daging namun bukan menjadi penjualan pokok, hanya sebagai pelengkap. Di samping pondok juga terdapat toko jualan oleh-oleh khan Magelang. Saya tak bisa nongkrong lama-lama di pondok ini, apalagi hujan sudah mereda. Saya menawarkan iklan pondok makan jamur ini di blog saya dan disanggupi oleh Pak Agus. Sambil jepret sana sini akhirnya saya pamit, kemudian menyeberang jalan dan naik angkot menuju Muntilan untuk merambah kawasan hutan lereng Merapi.

Untuk yang terarik merasakan masakan jamur ini bagi anda yang berdomisli di sekitar Magelang dapat menghubungi Pak Agus Ismail di nomer hape : 081328219095 dan 085878332281.

Ayam Goreng Ninit Dan Pemancingan February 14, 2009

Posted by Yohan in : Wisata Kuliner , 1 comment so far

Setelah kelar membeli fan casing serta fan hardisk lalu kembali membongkar cpu untuk memasangnya. Komputer bisa dipakai dan internet dengan sinyal HSDPA penuh sampai 6 bar membuat saya hendak memakai internet, belum ada sepuluh menit kakak dan adik mengajak mancing. Yeah, dari pada mainin internet ditengah capai pulang memang lebih baik mencari sesuatu yang menyegarkan. Mancingpun menjadi pelampiasannya. Namun sial karena yang ikut datang sekeluarga justru malah jorannya kurang. Terpaksa saya gantian memancing, tempat pemacinganpun terletak di luar kota Magelang, tepatnya di desa Sindas, yang bisa di tempuh lewat Menowo, masuk melewati SMA Bhakti Karya dan SMP Negeri 3. Setelah lewat jembatan besar akan sampai ke Desa Sindas, ambilah jalan menuju Kali Elo dengan berbelok ke kanan, tempatnya pun cukup enak buat mojok karena dibelakang tempat itu mengalir Kali Elo, bahkan anda bisa mengambil tempat makan dipinggir kali. Bujub ! ternyata tempat pemacingan itu merangkap jualan ayam goreng Ninit. Ayam goreng tulang lunak.

arena

pinggir kali

Seja kecil saya memang mengenal ayam goreng ninit namun bukan penggila berat, maklum saya termasuk vegetarian, namun suka mencuri-curi makan daging jika terkenang masa lalu, namun setidaknya saya mengenal betul pemilik ayam goreng ninit itu, karena dulu tempat pengolahan ayam goreng tulang lunak tak jauh dari rumah saya, dan anak pemiliknya pun merupakan kawan saya. Bukan mancing yang menarik perhatian saya, justru malah membuat perut saya lapar. Dhuh ! maunya makan sego pecel. Tempat untuk para tamu pun dibuat dengan nyaman dengan lesehan dipinggir kolam pemancingan.

kolam

Perut saya nggak bisa diajak kompromi, lalu memesan ayam goreng dua potong beserta kelengkapannya, cukup lengkap juga ayam goreng tulang lunak, sayur kobis, kemangi, sayur ketela, mentimun beserta sambelnya yang khas Ninit, tak lupa es teh manis.

seporsi

Cukup lengkap bukan? mejeng juga rokok Star Mild beserta kedua hape saya. Maaf, gambar diatas saya kasih watermark karena nggak mau jadi bahan kupipes orang nggak bertanggungjawab, padahal ini jepret sendiri.

Langsung saja saya menikmati makan sore yang nikmat dipinggir kolam, sedang kakak saya sendiri sibuk memancing ikan nila dan mendapat beberapa ekor ikan Nila. Dapat juga ikan bawal namun karena kurang suka ikan bawal, ikannya dilepas lagi. Juga ada beberapa ekor yang lepas saat mau dimasukan ke dalam jaring kecil.

mancinger

Saya sendiri masih asyik saja menikmati suguhan ayam goreng. rasa tulangnya yang tetap empuk, sambalnya yang sangat pas di lidah, lalapan yang segar. Sayang saya mendapatkan bagian paha, paha memang mengasyikan jika itu paha mulus punya cewek seksi, ini hanya paha ayam. huh !

ayo makan

Berapa harganya sih ? untuk sepotong ayam goreng ninit di tempat itu harganya relatif murah hanya Rp.8000, dengan nasi Rp.2000, minumnya terserah anda pilih dan harganya justru tidak saya tanyakan. Namun saya memesan dua es teh manis untuk saya dan adik saya, serta es jeruk bagi pemancing tersebut total 4 gelas. Berapa yang saya bayar, saya hanya bayar Rp.20.000 saja, gratis 2 gelas es teh dan 4 gelas es jeruk. Lha kok bisa ? Usut punya usut pemilik tempat pemancingan dan ayam goreng ninit, tak lain teman saya sendiri, saat itu saya masih kecil, Mas Heru demikian nama pemilik tersebut, Mas Heru tak lupa akan saya, sedang saya sedikit pangling. Waduh ! maafkan saya Mas Heru.

mas heru

Tampak Mas Heru yang sudah gemuk karena menjadi juragan, tipe pengusaha sukses yang juga membesarkan usaha ayam goreng ninit. Terima kasih Mas atas layanan anda yang memuaskan, semoga sukses selalu menaungi anda.

Nasi dan ayam goreng tulang lunak tersebut tak lama kemudian sudah berpindah ke perut saya dan membuat celana saya sesak. Bahkan saya makan tanpa sisa.

habis

Hahahahahahaha .. maaf kalo bekas makanan saya pajang juga, bahwa itu menunjukan kepuasan. Lha wong nostalgia masa lalu tak salah untuk diabadikan kembali. Dulu pernah jepret kayak begitu, namun ya karena sudah hilang mau dikata apa.