Malam Keakraban SMA 4 Dan SMA Nasima Semarang di Gubug Selo April 25, 2009
Posted by Yohan in : Travelling , trackbackHari Rabu tanggal 22 April, malam sekitar jam 19 hujan rintik-rintik menerpa kawasan Sumber di lereng Merapi, selepas makan malam kami bertiga, Romo Kirjito, Romo Supri, dan saya, seorang laskar capung
berangkat ke Gubug Selo di Lor Senowo menggunakan kendaraan kijang menembus kegelapan malam, untuk menghadiri acara malam keakraban dan pentas seni bersama SMA 4 dan SMA Nasima Semarang, jarak antara tempat saya menginap dengan Gubug Selo jika ditarik garis lurus tidak lebih dari 1,5 KM, namun karena jalannya memutar sehingga menjadi jauh sama sekali bahkan bisa menjadi 5 kali lipatnya.
Mobil berjalan naik ke arah Merapi kemudian berbelok kira-kira 1 Km kemudian balik lagi ke arah bawah sejauh 2 KM, kemudian berbelok kanan sampai 2 KM dan naik lagi ke arah Dusun Grogol sejauh 2 KM, wah jauh sekali, sampailah di Gubug Selo, ketika kami datang semua sudah siap, termasuk dari dinas pertanian propinsi Jawa Tengah.
Acara dimulai dengan sambutan sebagai basa basi belaka, bahkan sambutan bukan hanya sekedar sambutan namun dibuat sangat santai. Sehingga suasana menjadi lebih hidup, apalagi suhu dingin sering membuat orang membeku. Lalu acara dilanjutkan dengan nyanyi bersama oleh masing-masing kelompok yang tadi siang melakukan live in di alam terbuka, sharingpun kembali dibuka tentang apa yang dialami. Tidak ada ketentuan harus ngomong apa, terserah bagi peserta, karena disini adalah masalah eksplorasi diri sendiri tentang kegiatan yang diikuti.

Dari guru-guru memberikan wejangan bahwa kegiatan ini menimbulkan efek positif bahkan 3 hari dirasa tidak cukup dan kalo bisa menjadi seminggu, para guru meminta para peserta setelah pulang harus ada perubahan dalam sikap, semangat dan lain lain. Kegiatan seperti ini tidak akan membuat peserta tidak datang lagi, apalagi sikap penduduk yang ramah mau menerima peserta dalam tempat tinggalnya.

Sambutan juga datang dari Dinas Pertanian yang mengeluhkan bahwa generasi muda sekarang emoh terhadap pertanian, bahkan ada fakultas pertanian yang ditutup karena tidak ada yang mendaftar. Kita harus tarik ke masa kita kecil karena hal ini peran serta orang tua menentukan apa si anak tertarik bertani apa tidak, jika kita bertanya pada anak petani “jika kamu sudah gedhe mau jadi apa?” Jawabnya pasti beragam, ada yang jadi pejabat, pegawe, guru, dokter, polisi, tentara, bahkan presiden, namun yang menjawab menjadi petani? Tidak ada. Begitu parahkah ? lantas salah siapa ?.

Lalu jika sekarang kita ambil kesimpulan ketika terjadi krisis global, cari pekerjaan susah, lantas jika ditanya “kamu mau kerja apa kalo pulang kampung?” jawabnya “MACUL”. Nah terjadi kontradiksi dan inilah kesimpulan, menjadi petani karena terpaksa. Padahal negara ini negara agraris( bukan pembajak
). Namun mengapa susah mengarahkan anak untuk menjadi seorang petani. Menjadi petani tidak bisa dengan cara terpaksa, maka untuk itu kudu dikenalkan metode baru tentang pertanian, menjadi petani tidak harus cangkul sendiri, menjadi juragan petani juga bisa dilakukan, yang penting melestarikan warisan orang tua, menjadi wong ndeso bukan aib namun sebuah anugerah, menjadi wong ndeso itu lebih sehat dari wong kutha yang sudah terpapar polusi. Saya menjadi orang kota juga tidak enak. Bahkan selalu ingin Mbali Ndeso.
Dalam malam keakraban ini juga dipentas kesenian gangsir ngenthir. Cukup memukau juga karena banyak yang ikut nimbrung dalam pentas seni itu yang mirip jatilan/kuda lumping. Malam semakin melarut ketika mendekati jam 22.30, dan acara ditutup dan para pesertapun diangkut dengan pick up biar merasakan seperti apa moda angkutan pedesaan.

Acara ditutup dengan sambutan dari Romo Kirjito mewakili Tim eGSPI.




Comments»
no comments yet - be the first?