jump to navigation

SMA 4 Dan SMA Nasima Semarang Live In Merapi April 23, 2009

Posted by Yohan in : Spiritualitas , trackback

Kali ini saya mendapatkan undangan dari Romo Kirjito selaku moderator Edukasi Gerakan Masyarakat Cinta Air di sebuah Dusun Sumber Muntilan Kabupaten Magelang. Saya datang hari Selasa tanggal 21 April, selepas saya istirahat sehari dari perjalanan ke Denpasar Bali. Saya hadir sore hari sehingga saya malamnya menginap di pasturan Paroki Maria Lourdes Sumber. Seperti biasa malamnya bersama Romo Kirjito membicarakan masalah komputer dan internet yang berkaitan dengan webya www.egmca.net . Di mana nantinya segala kegiatan live in Merapi akan dituliskan diweb tersebut

Pagi kami berangkat dari gereja Paroki Sumber bersama dengan Romo Kirjito dengan naik kendaraan pribadi, lalu kami berhenti di sebuah desa untuk memarkir mobil dari berjalan kaki menuju Gubug Selo Lor Senowo yang berada di Dusun Grogol. Sesampai di sana ternyata acara telah dimulai dengan diadakan pertemuan untuk melakukan safari keliling sawah dan sungai. Acara ini dibuat sedemikian rupa tanpa memandang status entah tua atau muda, kaya atau miskin, semua membaur menjadi satu, pesertapun tidak dibebani apapun dalam ikut kegiatan ini, namun setidaknya bisa menggali sesuatu dalam acara live in di Merapi ini, entah bentuknya apa itu tergantung peserta sendiri karena dalam acara ini hanya peserta sendiri yang bisa menentukan apa yang hendak dicapai, bahkan acara ini bisa dikategorikan sebagai lintas iman karena tidak memandang seseorang beragama apa. Seorang atheis bisa bertemu dengan kaum beragama dan yang beragama tidak usah memandang “orang tidak beragama” dengan penilaian tertentu, karena orang beragama belum tentu sebaik orang tidak beragama.

selo

Acara ini merupakan ide dari dinas pertanian provinsi Jawa Tengah untuk mengenalkan pertanian pada generasi muda yang kali ini diikuti oleh para siswa dari SMA 4 dan SMA Nasima, keduanya dari Semarang, tak pelak acara ini sungguh seru dan mengasyikan dibanding dengan acara rekoleksi atau retret di tempat lain, saya pun boleh mengikuti kelompok mana dalam berinteraksi dengan peserta lain. Alhasil saya bisa mengenal orang dari berbagai macam karakter, terutama kaum muda anak sekolah yang mungkin belum terbentuk kondisi sudut pandangnya. Para peserta seperti biasa akan tinggal di rumah penduduk untuk mengenal lebih dalam kehidupan lereng Merapi, mengenal keluarga angkat, mengikuti irama kehidupan kaum petani, makan seperti petani dan tentu saja ikut “nyawah” di sawah keluarga angkat.

sharing

Peserta pun berangkat menyusur sawah dan mereka dipandu oleh Tim dari eGSPI : edukasi Gubug Selo Merapi, yang sehari-hari mereka adalah petani, kaum bawah, tidak ada sekat pembatas, tidak ada merasa digurui dan menggurui dalam acara menyelusuri dan menelusuri persawahan, diharapkan dalam persawahan mereka dapat belajar dari alam, walau terkesan sepele namun jika anda pernah membaca novel James Redfield tentang Celestine Prophercy dan The Ten Insight maka kita akan banyak menggali lebih dalam apa itu alam. Alam punya energi dan energi ini bisa kita rasakan pada tumbuh-tumbuhan, pohon bukan sekedar pohon, pohon punya kehidupan dan tentu saja energi, jika kita mau menyatu dengan mereka maka akan ada pertukaran energi, seperti halnya anda mendapat pemandangan indah dan hati anda akan merasa tenang, dan gembira, sebaliknya jika anda mendapat pemandangan hutan gundul maka hati anda akan gundah gulana, bahkan anda pasti akan merutuk, menggeram, bahkan marah. Alam punya cara sendiri berbicara dengan keadaan.

sawah

nyawah

Dalam acara ini peserta diharapkan membuang sisi negatif sehingga mendapatkan yang positif, namun saya berbeda sudut pandang dalam hal ini, saya tidak bisa membuang apa yang namanya sisi negatif karena itu sudah menjadi sifat manusia. Manusia sudah terkondisi dengan positif-negatif, semakin saya ingin membuang sisi negatif maka akan timbul pertentangan batin, dalam kehidupan ini yang terkondisi dua kutub, ada timur ada barat, ada pria ada wanita, ada negatif ada positip, ada hidup ada mati, ada lapar ada kenyang, ada senang ada sedih, ada siang ada malam dan lain lain, semua ini merupakan suatu irama kehidupan alam itu sendiri termasuk manusia, bisakah anda membuangnya? dapatkah anda membuang penilaian negatif tentang seorang bajingan? lalu apakah anda mampu membuang bau kotoran anjing di depan kita? Orang akan bilang, ah itu sudah sifat manusia, tak bisa dibuang akan selalu melekat dalam dirinya. Namun sebagai seorang The Seeker alias seorang pencari saya menemukan apa yang disebut “melampaui” tentang kedua kutub tersebut. Pelampauan seperti ini membutuhkan sharing dengan sesama, tidak harus manusia, tetapi juga tumbuhan, hewan, air, batu, sawah, dan lain lain. Mereka pun bisa mendengar kita dengan cara mereka sendiri.

Terkadang saya mendapatkan pemandangan yang tidak seperti didapatkan orang dalam live in ini, mungkin ini akan lepas dari pengamatan anda, bahkan sebuah pohon jika berjejer mereka akan saling bertukar energi, untuk bisa melihat seperti ini maka dibutuhkan sikap meditatif, menerima segala sesuatu seperti apa adanya, tidak ditambah tidak dikurangi, tidak menuduh, tidak mencela, juga tidak memuji, tidak menganalisa, tidak berpretensi. kadang saya bisa melihat energi kedua pohon dengan cara saya yang mungkin kedengaran agak aneh bagi yang tidak pernah melakukan meditasi. Mendengar ini anda akan langsung menvonis saya “alah apa sih kamu, kerjanya cuma mainin komputer, kok bisa-bisanya mengurusi masalah meditasi”. Meditasi intinya adalah seperti yang dikatakan oleh Lao Tze bahwa hidup meditatif adalah menerima segala sesuatu seperti apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak memuji, tidak mencela, juga tidak menganalisa. Dalam pikiran kita akan dibiarkan karena pada dasarnya meditasi asalah membiarkan segala sesuatu seperti apa adanya.

Maka sehingga apa yang dinamakan live in di Merapi ini, kita akan dibimbing oleh alam, seakan kita hanya mengikuti alur sungai, sawah, pohon, yang sepertinya hanya “begitu”. Namun “kebegituan” alam menyimpan energi yang yah, kalo bisa dikalkulasi bisa menghancurkan sebuah negara, bahkan bumi ini. Pohon berbicara kepada kita, namun apakah kita bisa menangkap atau mendengar apa kata mereka? pohon punya cara unik untuk berbicara yang tidak setiap orang mengerti. Hanya dengan cara tekhnik tertentu akan melihat pertukaran energi semacam medan listrik, biasanya ini saya lakukan dengan membelakangi matahari kemudian memandang dengan seksama pada kedua pohon, pandanglah dengan hati, bukan dengan pikiran, kedua pohon selalu melakukan pertukaran energi dalam kurun waktu tertentu, namun tidak setiap saat saya bisa melakukan, karena itu termasuk dalam meditasi. Masih perlu banyak latihan.

Setelah melewati persawahan peserta istirahat sejenak ketika sampai di sebuah desa, dan ternyata telah disuguhkan sebuah pentas seni yang bernama Manusia Tanah, beberapa orang dibalut lumpur sawah sedemikiaan rupa sehingga nyaris tanpa kelihatan badan aslinya. Apa yang bisa diambil dari pentas seni itu. Hanya peserta itu sendiri yang bisa mengartikan, saya tidak tahu persis apa artinya setidaknya bisa menangkap apa arti Manusia Tanah, karena saya sibuk mengambil photo kesana kemari. Yak setidaknya bisa mengambil sudut positipnya bahwa itu merupakan dinamika kehidupan persawahan, jungkir balik di kubangan lumpur yang menurut saya bisa diartikan sebuah sawah, ada yang menanam padi.

pentas seni

Saya terbiasa menangkap arti demikian jika justru saat ada kejadian lain dan itu datang justru saat kejadian akan berlangsung di tempat lain, sehingga saya selalu mengatakan bahwa itu merupakan tali temali sebuah rentetan energi. Hidup bukan kebetulan, kalopun itu kebetulan maka itu merupakan kebetulan bermakna, apakah pertemuan saya dengan Romo Kirjito merupakan suatu kebetulan setelah bertahun-tahun tidak bertemu? saya rasa tidak. Saya mengenal Romo Kirjito sejak kecil, pembawaannya yang kalem dan tenang, dan saya merasa mendapatkan kembali seorang sahabat, tidak memandang saya sebagai seorang umat, namun dipandang sebagai seorang manusia tanpa embel-embel beragama. Saya tidak pernah ditegur Romo soal iman saya, saya tidak pernah disalahkan dalam hal ini itu dalam keimanan saya, karena saya juga punya iman sendiri dan pengimplementasiannya juga berbeda dengan orang lain yang mungkin mempunyai agama dan iman yang sama. Romo Kirjito tidak pernah menanyakan apakah saya sudah ke gereja belum, saya juga tidak pernah diajak Romo Kirjito untuk ikut misa. kalo saya pikir sih apa makud Romo Kirjito? Saya pernah bahkan sering mendapat teguran dari Romo lain di tempat lain, suka dihardik, jangan begitu, jangan begini. seolah-olah saya akan “dibuat” “diarahkan” “dikondisi” menjadi keinginan seorang rohaniwan, dan tak pelak lagi saya bukan bangsa orang yang tidak suka dikondisi, sehingga sering kali saya ada pertentangan bathin yang cukup dashyat, hal ini membuat saya cukup depresi dalam keimanan saya dan saya mengalami apa itu krisis iman, namun akhirnya saya mendapatkan kembali apa itu iman saya, saya sudah cukup banyak makan asam garam dari berbagai macam ajaran agama, namun satu hal saya lebih menyukai ajaran Sri Krishna dalam agama Hindu.

briefing

Setelah acara pentas seni Manusia Tanah selesai diadakan sharing sejenak setiap kelompok, terserah dan bagaimana tanggapan mereka terhadap apa yang mereka lihat karena peserta punya cara sendiri untuk menyikapi hal tersebut. Ada efek positif dari pentas seni ini tentang gambaran kehidupan real masyarakat petani yang justru selalu dipermainkan oleh penguasa, ketika panen harga gabah diturunin, ketika butuh bibit harga dinaikan, harga pupuk mahal, bahkan pupuk yang ada bukan menyuburkan tapi malah merusak kesuburan tanah yang ujung-ujungnya duit, setelah itu negara agraris ini masih mengimport beras padahal negeri ini mampu memproduksi beras sendiri.

Kembali acara dilanjutkan dengan surfing ke air, dan ini sungguh mendebarkan dan mengasyikan karena menyatu dengan air, mandi sepuasnya, menyusuri mata air dan tuk di lereng Merapi yang kaya akan air serta menghidupi masyarakat sekitar. Peserta diajak untuk belajar dari air, perilaku air tergantung kita memandang. Memperlakukan air dengan cara tertentu juga akan menimbulkan efek tertentu.

nyebur

nyelusup

Peserta bahkan sampai masuk ke dalam terowongan yang panjangnya hampir 7 meter, saya pun ikut juga masuk ke terowongan tersebut dan basah kuyub, sungguh nikmat dan segar. Apalagi pemandangan sungguh menyejukan. Sehingga persatuan dengan alam terjalin, energi saling dipertukarkan antar sesama makhluk. Hujan malah mengguyur ketika acara belum selesai, namun Romo Kirjito mengajak saya pulang karena ada berita duka dan kami hendak melayat bersama Romo Supri. Saya kudu mentas dari air. Hmm.. sebuah perjalanan spiritualis iman yang mengasyikan.

Comments»

1. unyil - May 16, 2009

wawh..
oke oke..
hhahahahaha…
emg live in kmrn seruuu bgd. ini ni unyil dr sma 4 yg ikud juga,. aq tinggal di desa sewukan 2 drmh ibu harti. sip! asik kog.
wah..tp ms yohan tu yg mna yiaaa.!!????
hhe..
wah,,pkoknya klo masi sering k gubug salam yupz buad kang moko. mav juga buad alkohol yg aq abisin buad ngilangin pacet di kaki yg tnyata gag ada apa2nya. wkwkwkwkwkw…
sering2 lg bkin keg yg unik deh.
ntr abis keg ada rncana buad reunian brg panitia,pserta,n ortu angkadnya jugaaa…

@unyil
Huhehehehehe .. kalo guwe mah yang datang belakangan, kalo nggak salah datangnya rabu pagi bareng Romo Kirjito, pas malamnya pake jaket FC Bhineka warna biru yang jepret pake kamera kecil, tampangnya ada di sebelah kanan atas. kalo mas akbar prabowo tau kok, coba minta photo2nya sama beliau, sebagian ada di mari :
http://rapidshare.com/files/227625252/100MEDIA.rar
http://rapidshare.com/files/227770511/101MEDIA.rar
http://rapidshare.com/files/227780599/102MEDIA.rar
sisanya di mas akbar.

2. yuni - October 20, 2009

Bisa saya minta informasi kontak person tentang tuk mancur? pada siapa saya bisa menghubungi?

3. yohans - February 14, 2010

saya pernah mengikuti kegiatan live in ngargomulyo, tapi kenapa aku cari di bolg mas gak ada?


Spam protection by WP Captcha-Free