Apa Yang Saya Dapatkan Dari Live In Di Merapi? April 25, 2009
Posted by Yohan in : Spiritualitas , add a commentSetelah dua kali mengikuti Live in di lereng Merapi bersama Unika Atmajaya Yogyakarta dan Tim Tuk Mancur di Desa Ngargomulyo Sumber Muntilan, dan terakhir bersama SMA 4 dan SMA Nasima Semarang saya harus memberikan masukan dan kesan-kesan saya selama diundang oleh Moderator edukasi Gerakan Masyarakat Cinta Air Romo V Kirjito. Adalah bagi saya merupakan suatu undangan yang yah tidak seperti yang saya dapatkan selama ini di tempat lain. Pendek kata saya mendapatkan sesuatu yang lain tentang apa arti sebenarnya dari alam, baik itu air, pohon, binatang, dan sesama manusia, terlebih menitikberatkan pada sektor petani di pedesaan.
Kehidupan kawasan Merapi kalo dilihat secara biasa tidak ada bedanya dengan daerah pedesaan lain, namun jika lebih dalam maka dinamika kehidupan di kawasan Merapi tepatnya Dusun Sumber Muntilan berbeda dengan tempat lain karena di sini tidak hanya petani saja yang bisa dicermati lebih dalam karena masih ada budaya yang sedang dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Romo Kirjito bagi saya bukan hanya sekedar seorang pastur, beliau adalah seorang budayawan lokal yang tidak pernah berhenti apa yang namanya belajar dari alam sekitar. Saya lebih menyukai beliau sebagai seorang pribadi yang terlepas dari atribut pastoral, namun saya tetap menghormati beliau sejalan dengan hirarki gereja, beliau adalah Bapak, sekaligus sahabat bagi saya, sahabat yang baik yang mau belajar dari seorang yang cuma dianggap seorang laskar capung
.
Saya tidak hanya mengenal Romo Kirjito di kawasan Merapi, namun saya juga mengenal pribadi lain yang kepribadiannya tak pernah lepas dari sikap wong ndeso yang tidak aneh-aneh, saya mengenal Pak Longgar dari Tim Tuk Mancur, juga Romo Supri yang masih muda dengan pembawaannya yang santai tidak grusa-grusa dibanding saya yang suka ingin serba cepat sejalan dengan perkembangan dunia informasi. Di sini saya bisa menimba ilmu dengan wong ndeso, seorang IT beginer bertemu dengan wong ndeso, pertukaran ilmu pun terjadi. Tidak ada yang lebih tua, tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang merasa pintar karena semua menjadi satu. Semua menyatu menjadi dalam air.
Jauh sebelumnya saya telah larut dalam novel James Redfield The Celestine Prophercy di mana kejadiannya dalam di hutan Peru yang banyak sungai dan hutan, saya mengalami transformasi iman ke dalam alam di lereng Merapi, iman akan kehidupan yang bermuara dalam Sang Khalik, belajar kepada air, berbicara dengan air. Air adalah air, air bertindak mengikuti irama manusia, dimana manusia serakah maka air pun menjadi musuh berbahaya, musuh yang sulit dan bahkan tidak bisa ditundukkan.
Semua kehidupan tergantung air, air tidak hanya berada di bumi ini saja, planet lain yang jaraknya dalam satu tahun cahaya pun tetap ada keberadaan air. Maka menyadari dan melestarikan sumber air adalah merupakan kewajiban, air bukan cuma untuk anak cucu, namun juga kehidupan selanjutnya. Masuk ke sawah belajar kepada tumbuhan, serangga dan lain lain, tentu saja membuat semakin menyatu dengan alam. Membiarkan mereka hidup apa adanya.
Sayang seribu sayang, keberadaan air di lereng Merapi semakin berkurang seiring adanya pertambangan liar, sehingga membuat air berkurang drastis, para penambang pasir punya hak mengambil pasir namun kalo tidak melihat ekosistem hancurlah kawasan tersebut. sebagai seorang yang aktif dalam dunia internet, langsung tak langsung saya harus membawa suara para sahabat saya di lereng Merapi untuk mengetuk jika perlu mendobrak penguasa agar lebih bijak memperhatikan kawasan konservasi seperti kawasan Merapi.
Kawasan Merapi tidak hanya masalah pasir dan air saja, namun ada budaya tersendiri, mereka memprotes keberadaan penambangan pasir dengan cara mereka sendiri, perlawanan ini dilakukan dengan budaya, bukan dengan jalan demo layaknya jalanan di Jakarta. Suara mereka diwakilkan dengan cara pentas seni sehingga orang-orang yang mengerti budaya akan terketuk tak terkecuali masyarakat yang merasa interest dengan budaya Merapi. Bahwa mereka masih mempunyai suara, maka kita sebagai orang kota hendaklah lebih bijak dan memahami mereka.
Saya tak tahu persis apa yang hendak saya lakukan dengan membawa suara mereka ke dunia maya sehingga terdengar semakin luas dan semoga ada pihak yang mau membuka pintu bahwa Merapi perlu diselamatkan. Terima kasih Romo Kirjito, Romo Supri, Tim Tuk Mancur, Tim eGSPI, telah menerima saya yang hanya mengambil sedikit dari keprihatinan anda, apa yang saya lakukan hanya sebutir pasir dalam lautan luas perjuangan anda semua. Bahwa jika kompak dan satu suara, niscaya bahwa kawasan Merapi dapat kita lestarikan. Semoga
Malam Keakraban SMA 4 Dan SMA Nasima Semarang di Gubug Selo April 25, 2009
Posted by Yohan in : Travelling , add a commentHari Rabu tanggal 22 April, malam sekitar jam 19 hujan rintik-rintik menerpa kawasan Sumber di lereng Merapi, selepas makan malam kami bertiga, Romo Kirjito, Romo Supri, dan saya, seorang laskar capung
berangkat ke Gubug Selo di Lor Senowo menggunakan kendaraan kijang menembus kegelapan malam, untuk menghadiri acara malam keakraban dan pentas seni bersama SMA 4 dan SMA Nasima Semarang, jarak antara tempat saya menginap dengan Gubug Selo jika ditarik garis lurus tidak lebih dari 1,5 KM, namun karena jalannya memutar sehingga menjadi jauh sama sekali bahkan bisa menjadi 5 kali lipatnya.
Mobil berjalan naik ke arah Merapi kemudian berbelok kira-kira 1 Km kemudian balik lagi ke arah bawah sejauh 2 KM, kemudian berbelok kanan sampai 2 KM dan naik lagi ke arah Dusun Grogol sejauh 2 KM, wah jauh sekali, sampailah di Gubug Selo, ketika kami datang semua sudah siap, termasuk dari dinas pertanian propinsi Jawa Tengah.
Acara dimulai dengan sambutan sebagai basa basi belaka, bahkan sambutan bukan hanya sekedar sambutan namun dibuat sangat santai. Sehingga suasana menjadi lebih hidup, apalagi suhu dingin sering membuat orang membeku. Lalu acara dilanjutkan dengan nyanyi bersama oleh masing-masing kelompok yang tadi siang melakukan live in di alam terbuka, sharingpun kembali dibuka tentang apa yang dialami. Tidak ada ketentuan harus ngomong apa, terserah bagi peserta, karena disini adalah masalah eksplorasi diri sendiri tentang kegiatan yang diikuti.

Dari guru-guru memberikan wejangan bahwa kegiatan ini menimbulkan efek positif bahkan 3 hari dirasa tidak cukup dan kalo bisa menjadi seminggu, para guru meminta para peserta setelah pulang harus ada perubahan dalam sikap, semangat dan lain lain. Kegiatan seperti ini tidak akan membuat peserta tidak datang lagi, apalagi sikap penduduk yang ramah mau menerima peserta dalam tempat tinggalnya.

Sambutan juga datang dari Dinas Pertanian yang mengeluhkan bahwa generasi muda sekarang emoh terhadap pertanian, bahkan ada fakultas pertanian yang ditutup karena tidak ada yang mendaftar. Kita harus tarik ke masa kita kecil karena hal ini peran serta orang tua menentukan apa si anak tertarik bertani apa tidak, jika kita bertanya pada anak petani “jika kamu sudah gedhe mau jadi apa?” Jawabnya pasti beragam, ada yang jadi pejabat, pegawe, guru, dokter, polisi, tentara, bahkan presiden, namun yang menjawab menjadi petani? Tidak ada. Begitu parahkah ? lantas salah siapa ?.

Lalu jika sekarang kita ambil kesimpulan ketika terjadi krisis global, cari pekerjaan susah, lantas jika ditanya “kamu mau kerja apa kalo pulang kampung?” jawabnya “MACUL”. Nah terjadi kontradiksi dan inilah kesimpulan, menjadi petani karena terpaksa. Padahal negara ini negara agraris( bukan pembajak
). Namun mengapa susah mengarahkan anak untuk menjadi seorang petani. Menjadi petani tidak bisa dengan cara terpaksa, maka untuk itu kudu dikenalkan metode baru tentang pertanian, menjadi petani tidak harus cangkul sendiri, menjadi juragan petani juga bisa dilakukan, yang penting melestarikan warisan orang tua, menjadi wong ndeso bukan aib namun sebuah anugerah, menjadi wong ndeso itu lebih sehat dari wong kutha yang sudah terpapar polusi. Saya menjadi orang kota juga tidak enak. Bahkan selalu ingin Mbali Ndeso.
Dalam malam keakraban ini juga dipentas kesenian gangsir ngenthir. Cukup memukau juga karena banyak yang ikut nimbrung dalam pentas seni itu yang mirip jatilan/kuda lumping. Malam semakin melarut ketika mendekati jam 22.30, dan acara ditutup dan para pesertapun diangkut dengan pick up biar merasakan seperti apa moda angkutan pedesaan.

Acara ditutup dengan sambutan dari Romo Kirjito mewakili Tim eGSPI.



