jump to navigation

Pamitan February 22, 2009

Posted by Yohan in : Travelling , 1 comment so far

Pamitan merupakan sebuah ritual yang sangat sakral, jika kita bertamu di rumah orang ketika akan pulang kudu pamitan dulu, coba anda bayangkan tanpa pamitan pun sebenernya nggak masalah, tapi ya itu urusan etika jadi masalah. Mosok bertamu sampai menginap pulang tanpa pamit. Demikian pula dengan mahasiswa Unika Atmajaya ini pamit dan dilepas oleh Tim Tuk Mancur.

kumpul

Yeah ! pada capek apa kekenyangan makan nasi bungkus ? minum teh manis lagi. Habis mengikuti misa alam dan naik ke tebing untuk kembali ke kapel malah menyita tenaga. Kasiman !

pamitan

pamitan4

Dhuh cewek cakep ini salah satu peserta live in di Ngargomulyo. Semoga menemukan blog ini dan memberi sekedar komment.

Dalam pamitan ini banyak pesan disampaikan oleh Pak Longgar dan Romo Kirjito, jika mahasiswa hendak membuat karya tulis, skripsi atau sekedar ingin datang lagi, semua dipersilahkan datang dan gratis. Huehehehe .. kalo saya kek pasti datang, kayak dah merasa menjadi warga Merapi. Padahal Minggu sore tadi sempat naik ke Sumber lagi buat nginstall driver komputernya sekretariat Pasturan. Terus turun tak lama kemudian karena Romo Kirjito dan Romo Supri hendak ke Magelang, yeah ada tumpangan gratis nih.

pamitan1

Suasana haru menyelimuti semua mahasiswa yang merasa terkesan akan keramahan warga desa, di mana boleh mencecap sebuah pengalaman dengan menginap semalam mengikuti irama kehidupan yang tidak sama di kost waktu kuliah. Menjadi warga desa bagi saya dalah merupakan keinginan, suasana kota sudah begitu sumpek, namun menjadi warga desa juga sebaliknya, sering bosen adanya itu itu saja, bahkan ada pula yang keinginan malah ke kota. Pimen ini ? Ya kalo saya sih sebisanya kembali ke desa untuk menghirup udara segara dan menjauhkan diri dari kebisingan kota.

pamitan2

Sempat pula mejeng sekedar mencari kenangan dengan photo-photo. Biasa kek anak muda.

pamitan3

pamitan4

Akhirnya angkot membawa semua mahasiswa ke susteran untuk kembali. Saya pamitan dengan Tim Tuk Mancur, saya akan datang lagi dengan membawa misi yang lain, yang mungkin akan bermanfaat bagi Tim Tuk Mancur dan Edukasi Berbasis Alam dan Budaya Merapi, tentang apa bentuknya saya masih dipikirkan.

Selamat Jalan para mahasiswa Unika Atmajaya Yogyakarta. Terima kasih atas kesedian anda semua memperbolehkan saya ikut terlibat. Terima kasih kepada Tim Tuk Mancur, Romo Kirjito, Romo Supri, Anton dan semua yang berada di Tim Edukasi.

Misa Alam Di lereng Merapi February 22, 2009

Posted by Yohan in : Spiritualitas , comments closed

Saya bukan golongan ulama dalam bidang agama, hanya seorang pencari kebenaran dengan melihat berbagai sisi. Saya mengenal banyak agama, semua memberikan kedamaian tergantung bagaimana diri pribadi menyikapi hal itu. Malah pernah saya dianggap digolongkan sinkretisme, mencampuradukan berbagai macam ajaran agama. Namun saya tegaskan, jika saya melakukan Quantum Leap ke agama lain itu semata-mata ingin lebih memahami agar tidak salah sikap dan langkah. Jadi postingan kali ini berbeda dengan postingan lain, namun lebih ditekankan pada proses tentang eksplorasi alam.

Kebetulan dalam acara live in mahasiswa Unika Atmajaya Yogyakarta ini diadakan misa alam, misa di dekat sungai yang kaya akan tuk mancur. Acara dimulai kisaran jam 9an. Berangkat dari kapel dengan jalan kaki

berangkat

Lewat jembatan kemudian turun ke bawah jembatan. Tebingnya cukup curam sehingga para cewek takut-takut mau turun, malah ada kesan mau dilempar aja biar cepet sampai dibawah :D .

turun

Di tempat ini telah ada tuk mancur yang airnya merembes dari tebing di atas, cukup membuat lega sekali airnya. Bahkan kembali saya minum air dari pancuran ini. Wah seger banget.

pancuran

Setelah para mahasiswa dan tim Tuk Mancur misa dimulai dengan mencebur kakinya di sungai kecil tersebut. Misa dimulai.

misa alam2

misa alam3

Dalam misa ini Romo Kirjito mengajak para mahasiswa untuk sharing pengalamannya dalam bersua dengan penduduk setempat dan tentu saja mengekplorasi alam terbuka. Ada banyak yang bisa digali dalam acara yang singkat, bahkan salah satu punggawa Tim Tuk Mancur sendiri kedatangan mahasiswa ke lereng Merapi ini walau dalam waktu yang singkat bisa dibuat semacam karya tulis atau skripsi yang tebalnya bisa ratusan lembar, terserah bagaimana para mahasiswa mengurai arti dari ekplorasi alam. Semua tergantung kita sendiri, bahan yang tersedia cukup banyak, dari batu, pasir, rumput, tanaman, penduduk yang terbuka, semua bisa menjadi bahan, tinggal pengolahnya mau apa tidak.

Misa akhirnya ditutup dengan makan siang nasi bungkus. Semua makan tanpa sisa, mungkin ada yang sengaja dibuang. Nasi dibungkus daun pisang rasanya nikmat banget.

makan

Setelah makan selesai kebanyakan pada seret di tenggorokan, tidak ada air minum, air pancuran pun jadi pelepas seret tenggorokan :D .

Akhirnya kelar juga acara misa siang itu dan kembali ke menuju ke kapel untuk pamitan dengan Tim Tuk Mancur.