Hidup Untuk Belajar February 25, 2009
Posted by Yohan in : Seni , trackbackSudah belajar belum ? kalo belum belajar segera belajar biar anda tidak dikerjai orang. Satu kalimat ini selalu menyita pikiran saya, walau saya bukan kaum terpelajar namun saya tetap selalu belajar. Nah pertanyaannya mana yang mau dipilih : Belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar ? Mari kita ambil contoh. binatang buas sejak mengikuti induknya dia akan belajar untuk dapat mencari makan, sang anak dijari induknya bagaimana cara mengejar mangsa, bagian mana yang mematikan jika mangsa tertangkap, semua diajarkan, kalo sang anak sudah mampu memangsa sendiri, selesailah tugas belajar dari induknya. Jadi ini adalah belajar untuk hidup. Atau kita sendiri, sekolah sejak dari TK sampai perguruan tinggi, membaca buku, menggarap PR, membuat karya tulis sampai skripsi, begitu dapat pekerjaan semua ilmu tidak dipakai. Sarjana pertanian bekerja di bidang administrasi perkantoran, sarjana hukum bekerja di bidang ekonomi, ilmu tidak dapat diterapkan, bahkan pintar fisika malah jadi polisi. Jadi salah kaprah, bukan salah yang bersangkutan, namun kondisi yang ada mengharuskan demikian.
Kita tentu tidak ingin seperti itu bukan, selesai sekolah selesai juga belajarnya, belajar tidak kenal kata selesai, sekalipun anda sudah pintar, pandai, cerdas. Kita selalu ingin apa yang kita pelajari kelak menjadi mata pencaharian. Namun tidak ada salah jika sarjana pertanian jadi administrasi perkantoran. Dia bisa menerapkan ilmu pertaniannya pada adminsitrasi perkantoran, bukan dengan jalan menanam tanaman di kantor, namun lebih pada pelaksanaan sistem, menanam butuh sistem, tidak sekedar begitu tanam lalu nunggu panen, kalo musim hujan kebanjiran , musim panas kekeringan. Wah repot ! Kantor butuh sistem tertentu, seperti halnya bertanipun perlu sistem, dan bertani bukan hal yang sederhana, tidak sembarang orang bisa bertani, tapi kalo cuma nyangkul bisa, nyangkul hanya butuh tenaga, namun bertani butuh keuletan seperti halnya menjadi seorang sarjana pertanian.
Bicara masalah belajar bagi saya sendiri mengenal kata : There is no finish line, tidak ada batas akhir untuk belajar, kita dapat belajar pada siapa saja, pada sesama, manusia hewan, tumbuhan. Belajar mencermati kehidupan, belajar mencari apa yang terbaik bagi kita dan sesama. Kita tentu tidak menginginkan, setelah selesai sekolah, maka selesailah tugas belajar kita, ini namanya sekolah cuma cari ijasah. Ijasah bisa dicari atau dibeli namun ilmu tidak bisa dibeli, namun kudu dipelajari bahkan dijiwai.
Belajar adalah merupakan landasan untuk berhasil, kita bisa belajar dari kegagalan, manusia punya otonomi dalam dirinya. Seorang Bill Gates yang tidak lulus kuliahpun menjadi orang sukses dan menjadi orang terkaya didunia. Bill Gates tak pernah berhenti belajar. Karena Bill Gates adalah kaum terpelajar.
Tidak ada satupun manusia yang berhasil di dunia ini tanpa belajar, SBY menjadi presiden pun juga butuh belajar, bahkan koruptorpun butuh belajar bagaimana cara mengkorup uang negara tanpa diketahui KPK
. Semua butuh pembelajaran tanpa terkecuali, namun cara belajar mereka berbeda, SBY belajar mengamati kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara berpolitik, koruptor belajar dengan cara menghindari undang-undang dan KPK saat berusaha menilep uang negara, sogok sana sogok sini, pura-pura tidak tahu.
Namun, tak sedikit diantara kita yang malas belajar, bangsa kita menjadi tertinggal, kita tak pernah belajar dari sejarah yang pernah dipernah didengungkan oleh Bung Karno dengan jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, kita hanya belajar untuk ke depan, masa lalu biarlah berlalu, saya suka menyentil anak sekolah agar ingat masa lalu, siapa nama presiden RI, jawabnya pasti SBY. Salah ! Kenapa salah ? ya presiden RI hanya satu Ir Soekarno, lha Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY apa bukan presiden ? Maaf nak, kelima tokoh tersebut hanya penggantinya
. Saya bukan pendukung Bung Karno kok, namun saya sangat respek sama proklamator ini, beliau adalah orator ulung, tidak ada satupun yang bisa menyamai beliau, bahkan anaknya yang pernah jadi presiden sangat jauh sekali. Cuma membawa semangatnya saja, tetapi sikapnya sangat jauh. Malah saya tidak suka sama Mbak Mega, alasannya ya sepele, memang nggak suka. Saya tidak suka politikus, saya suka yang monotikus.
Jauh sebelum Bung Karno, kita mengenal seorang yang berwarna hitam dengan wajah yang seram namun bisa mempersatukan nusantara ini, tak lain Mahapatih Gajah Mada, satu-satunya patih yang punya gelar Maha Patih, tak ada ada yang lain, sebelum menaklukan Nusantara ini Gajah Mada pasti belajar dulu tentang ilmu perang, kenegaraan, negoisasi dan lain sebagainya, tak mungkin Gajah Mada asal nyerbu. Bisa mati konyol.
Kembali ke diri kita, apakah kita masih belajar sampai hari ini, belajar dari kehidupan. belajar dari sekitar kita, semua punya harmoni yang bisa menjadi sabahat kita dalam belajar, belajar tidak harus membaca buku, belajar mengamati, belajar dengan anak kita, tinggal bagaimana hal itu bisa meningkatkan kualitas hidup kita. Kita selalu mendikte anak kita agar mengikuti kemauan kita, padahal anak sendiri juga punya kemauan sendiri yang berbeda dengan orang tuanya. Saya selalu membiasakan adik atau keponakan jika tak mau belajar, tak mau tidur siang, saya selalu menanyakan alasannya. Dengan mengajaknya bicara demikian saya ingin menumbuhkan kesadaran. Nggak nggarap PR alasannya apa, nggak tidur siang alasannya apa, bukan dengan membentaknya, tidur sana, nggarap pr sana, belajar sana. Anak tidak suka dihardik. Jadi hidup itu butuh alasan, termasuk belajar juga butuh alasan, karena belajar itu merupakan bagian hidup kita.
Belajar tidak usah menunggu hari esok, bahkan belajar tanpa bukupun bisa, tinggal kreatifitas kita saja, belajar mengamati sehingga kualitas hidup kita meningkat. Ah ! bahasan yang tidak bermutu karena saya lagi agak malas menulis, hawa dingin di kota Magelang telah mematok otak saya hanya sekian persen. Huh !
Saat lagi asyik-asyik menulis ini ditanya sama ponakan saya, “Paklik, kenapa belum tidur ? alasannya apa ?” Matiiiii aku !
.




Comments
Memang kita harus banyak belajar. Kalau aku mau nbanyak belajar sama Bang Yohan nggak keberatan kan Bang. Maturnuwun
@Bagus@
Silakan. Terbuka ajalah.
saya juga ah….
mo ikutan blajar ama bapaknya Yohan biar tambah pinter
:D
@MAS@
Bapak saya cuma pendidikan Sekolah Rakyat, kitanya malah SMA. Piye jal ?