jump to navigation

Bantahan : Membuka Email Menurunkan IQ February 15, 2009

Posted by Yohan in : Informasi-Tekhnologi , trackback

David versus Goliath ! Demikian anggapan orang jika Yohan Enterprise hendak membantah apa yang diberitakan oleh sebuah portal sebesar www.vivanews.com. Coba bayangkan seisi kru vivanews adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi bersarjana dan tentu saja ber IQ tinggi, bila dibandingkan dengan pemilik Yohan Enterprise yang notabene hanya mendapatkan pendidikan di bangku kuliah universitas kehidupan. Jadi ibarat pendidikan melawan pengalaman. Mana yang unggul bukan itu yang dicari, namun lebih menitikberatkan di mana sangkutnya antara menurunnya IQ akibat membuka email atau memang malah semakin naik IQ-nya. Sebelum anda membaca lebih jauh postingan ini ada baiknya anda kunjungi link dibawah ini yang dicetaktebalkan, saya akan membantah paragraf perparagraf, jika pihak www.vivanews.com keberatan atas yang saya paparkan disini silakan gunakan hak jawab di kolom postingan. Tidak ada rotan akhirpun jadi.

Kecandungan Membuka Email Bis Turunkan IQ

Kita bedakan dulu antara kepintaran dengan kecerdasan, kepintaran itu tumbuh dari otak karena andalan IQ yang terbiasa melahirkan kaum intelegensia yang bersifat matematis. Sedangkan kecerdasan itu muncul karena adanya Frontier Power atau daya jelajah yang terbiasa melahirkan kaum intelektual yang bersikap sosiologis. Kalo kepintaran hanya mampu menjawab persoalan yang ada, maka kecerdasan menjangkau setiap penciptaan persoalan dan sekaligus menjawabnya. Jadi secara garis besar ini kaitannya dengan IQ bukan dengan FP atau Frontier Power. Bagaimana dengan kecerdasan emosi ? silakan anda nilai sendiri.

Saya kupipes dulu satu-satu :

“Anda hobi mengecek email hampir setiap saat ketika bekerja di kantor atau di rumah? Hati-hati, kecanduan memeriksa pesan elektronik, kondisinya tidak jauh berbeda dari ketergantungan terhadap obat-obatan.”

Bagi sebagian orang mengecek email belum tentu merupakan hobi, tapi ada yang sebagai pekerjaan utama. saya juga bertanya apakah para penghuni portal vivanews ada yang pernah merasakan ketergantungan obat-obatan terlarang?, saya rasa tidak ada karena mereka orang berpendidikan, sedang saya sendiri pernah mengalami apa itu obat terlarang, pendek kata saya dulu bukan orang baik-baik, untung sudah tobat. Mengamati berbeda dengan mengalami. Dewasa ini fungsi email sudah menggantikan surat biasa, kecuali dokumen tidak bisa digantikan begitu saja, dengan adanya email cost atau ongkos pengeluaran bisa ditekan seminimal mungkin. Ini merupakan langkah cerdas dalam mengirim berita, undangan, materi dan lain lain. Langkah cerdas merupakan kenaikan IQ. Betul sodara-sodara ?

“Menurut John Rateym, psikiater dan profesor dari Harvard, keinginan untuk selalu menjalin kontak dengan dunia maya, mirip dengan efek yang terjadi saat obat-obatan terlarang mempengaruhi otak. “Tak mengherankan, jika seseorang akan merasa endorfin (hormon yang bisa bikin perasaan senang) akan melonjak saat mendapatkan email baru. Tapi, sebaliknya, akan merasa sepi dan putus asa, jika tidak ada pesan eletronik baru,” tambah Rateym.”

Saya sengaja mencetak tebal kata “mirip”, arti mirip itu artinya tidak sama. hanya menyerupai, misal si Anton mirip Rano Karno, kalo dijejerkan ya jauh sekali perbedaannya dari tinggi badan, berat badan, perilaku, kegemaran, jumlah istri, jumlah anak bahkan jumlah cucu tidak akan sama, kalo memang klop? tidak mungkin, tidak ada satupun yang sama di dunia ini, karena Sang pencipta memang menciptakan manusia berbeda. Banyak orang yang memakai email seperti biasa saja walau email bejibun karena itu sudah merupakan suatu resiko, anda mengikuti milis jumlahnya ratusan mendapatkan email banyak sudah resiko, namun mendapat email sedikit malah terlonjak senang karena pekerjaan lain bisa cepat selesai dari pada mikirin email. Namun ada pula orang yang suka mendapat email banyak karena tidak ada pekerjaan. Saya agak reseh dengan kaitannya hormon endorfin, orang akan merasa senang mendapat email baru, ini harus digarisbawahi, kondisi orang tersebut bagaimana? kalo orang lagi ketimpa musibah keluarga tewas ketabrak kereta api apakah dia akan senang mendapat email baru?. jadi kondisi dan situasilah yang menentukan saat apa dia menerima email baru. Demikian pula dengan perasaan sepi dan putus asa jika tidak ada email baru, kembali kondisi dan situasi juga dominan di sini, jika anda mendapatkan hadiah menang sebesar 1 Milyar, tidak ada email baru no problemo justru malah senang karena bisa cepat-cepat mengurus dan mencairkan uang 1 Milyar.

“Ternyata, keluhan ini dialami banyak orang. Berdasarkan poling America Online baru-baru ini, terkuak bahwa 41 persen responden langsung mengecek email setelah bangun tidur tanpa menggosok gigi terlebih dulu. Di tambah lagi, 1 dari 4 responden merasa tidak percaya diri jika tidak terkoneksi dengan dunia maya.”

Ternyata itu merupakan suatu polling tho ? Kita kupas dulu apa itu polling. Secara sederhana polling adalah merupakan cara untuk mengetahui secara sederhana suatu kecenderungan seseorang yang berkaitan dengan keinginan dalam memilih apa yang disodorkan oleh pihak pemolling. Ada banyak cara lain untuk mengetahui, tidak hanya polling, polling berbeda dengan peluang, polling tidak akan selalu sama dengan hasilnya, karena pollling itu kecenderungan, cenderung tidak berarti sepakat. Jika anda dipaksa memilih A anda akan mengatakan “saya cenderung A” berarti nggak secara tegas mengatakan memilih A, polling adalah paksaan karena anda memilih yang ada. Anda boleh milih A atau B dan tidak memilihpun juga merupakan sikap. Coba polling yang lebih mengutamakan subyektif alias menulis sendiri apa yang disodorkan, bisa rusak itu polling :D .

Perkara orang menggosok gigi dulu tidak ada hubungannya dengan mengecek email, ini tergantung kebiasan orang itu sendiri, jangankan masalah email, sarapan pagi saja belum tentu menggosok gigi dulu. Saya termasuk salah satu orang yang malas gosok gigi kalo belum sarapan, ketika usai sarapan saya baru gosok gigi, sehingga sisa makanan yang numpang di rongga-rongga gigi tidak terbawa ke kantor. Perkara orang tidak pede karena tidak terkoneksi dengan dunia maya itu adalah orang yang sudah diperbudak oleh apa yang namanya barang elektronik, baca makalah di blog ini tentang Melepaskan Ketergantungan Barang Elektronik . Coba anda cek 1 diantara 4, berarti tidak ada separonya, jika ada 8 responden berarti ada 2 responden tidak percaya pada dunia maya jika tidak terhubung, berarti masih kurang nilai kredibiltas polling tersebut. Jan sial, untuk mengetahui lebih jauh ahli dari Universitas Harvard tempat Bli Gates pernah kuliah dan drop out tersebut minim sekali. Mana bisa mengupas lebih jauh tanpa meilhat latar belakang dia.

“Akibatnya, Banyak orang yang memiliki ketergantungan memeriksa email hampir setiap jam. Mereka bahkan rela bangun berkali-kali dalam semalam hanya untuk mengecek e-mail atau pun pesan singkat”

Sebab akan menimbulkan akibat, namun dalam tataran pekerjaan atau kuliah belum tentu berjalan teori tersebut, misalnya anda mendapat email baru, namun masih ada pekerjaan lain, jadi nggak ada akibat dari email baru tersebut, atau akibat tersebut malah tertunda dan email menjadi tidak penting. Memeriksa email tiap jam itu hanyalah perilaku saja, bahkan ada orang yang memeriksa email sehari satu kali malah ada yang dua hari sekali, tergantung mood orang itu sendiri, jika berkaitan dengan pekerjaan, ya kudu mau tak mau kudu dilakukan. Misalnya atasan Bang Pirman memberi perintah begini “Pirman, cek mail tiap jam”. Apa si Pirman mau ngecek email sehari satu kali, bisa dipecat itu orang. Perihal orang yang mengecek email dan sms bangun berkali-kali itu merupakan suatu orang yang sudah tidak normal. Ini berbeda dengan orang yang sudah kecanduan obat-obatan terlarang. Saya rasa di negeri ini yang melakukan hal tersebut palingan bisa dihitung dengan jari. Jangan membawa komputer, laptop, hape ke dalam kamar, kalo sudah begini ya salah dia sendiri, lha wong kamar itu ruang istirahat malah buat tempat mainin email.

“Jika dianalisis, teknologi memang dapat meningkatkan produktivitas kerja. Akan tetapi sejak ditemukan efek sampingnya, mulai saat ini pengguna teknologi harus belajar untuk menentukan kapan harus bebas dari telepon dan komputer. “

Hampir mirip dengan makalah di sini : Melepaskan Ketergantungan Barang Elektronik

“Penelitian yang dilakukan oleh Institute of Psychiatry, menemukan bahwa penggunaan teknologi menurunkan intelegensi pekerja. Tingkat penurunannya mencapai 10 poin atau dua kali lipat lebih besar dari penelitian terhadap pecandu obat-obatan terlarang”

Saya kok bingung dengan paragraf ini, kemajuan teknologi tak lepas dari intelegensia manusia. Masyarakat kita makin pintar dan kritis dalam kehidupan dewasa ini, kalo dulu kita hanya makan nasi sama teh manis, anak jaman sekarang sudah nutrisi sama susu. Maka otaknya lebih pintar dari pada kita. Kemajuan teknologi menjadikan orang semakin pinter, bukan malah semakin bodoh, teknologi yang dipakai justru malah bekerja tanpa menggunakan otak, karena semua serba otomatis, sehingga manusia tidak usah menggunakan otaknya dalam bekerja, lantas tidak berarti bodoh, justru malah pintar, ngapain pake otak, pake dengkul saja bisa beres, atau ibarat gank kriminal, ngapain boss turun tangan, kacungnya saja mampu ngatasin. Mikir sedikit bereslah pekerjaan itu. Kalo perlu emailpun dijawab dengan autoreply :D .

“Lebih dari setengah dari total responden yang seluruhnya 1.100 orang mengatakan bahwa mereka selalu menjawab email secepatnya atau sesegera mungkin. Bahkan 21 persen mengatakan kalau perlu di sela-sela rapat atau pertemuan. Sedangkan David Mayer, Profesor psikologi dari Universitas Michigan, mengatakan jumlah pecandu yang sulit membendung hasrat ini, dapat menurunkan ketajaman mental pekerja secara keseluruhan.”

Menjawab email itu tergantung orangnya, ada yang tergesa-gesa dan ada yang kapan saja, kalo sudah disela-sela rapat atau pertemuan itu tak diubahnya seperti wakil rakyat kita. Hanya perilaku saja yang menentukan, bahkan polling itu ditujukan untuk para pecandu, owalah !

Wah ! capek juga menulis sesuatu yang baru dan membantah sebuah berita yang notabene merupakan portal terkenal, namun saya akan merasa bahagia jika Sdr Petti Lubis bisa hadir dimari memberikan sekedar komment seperlunya. Maksud menulis ini adalah semata-mata karena berbedanya sudut pandang antara para ahli dan pendukungnya dengan saya sendiri.

Saya tidak ada maksud mencela berita dari portal vivanews, bahwa tidak hanya email yang menyebabkan demikian, namun itu tergantung orang itu sendiri, ketergantungan itu relatif, seperti saya dulu saat divonis tidak bakalan kembali ke jalan yang benar dari obat-obatan terlarang, namun hanya karena suatu hal saya bisa kembali ke jalan yang “semoga benar” alias meninggalkan obat-obatan terlarang, memang itu merupakan rahasia hidup saya yang tidak banyak diketahui teman-teman. Bahwa hanya niat kita dan meminta bimbingan dari Sang Pencipta, apapun akan menjadi mungkin. Jan sial, kini saya sudah tergantung sama rokok Star Mild, anehnya kalo nggak ada rokok itu saya nggak bisa merokok, pergi ke daerah pedalaman cuma ada rokok dukun alias rokok kretek, ya nggak merokok. Aneh khan ? perasaan biasa saja, nggak pusing, nggak ngebet. Star Mild memang memberi hidup lebih hidup. :D .

saya sendiri tidak menganggap email merupakan suatu yang pokok, yang kudu dibuka tiap hari walau saya mengikuti banyak milis. Malah saya sendiri sekarang malas membuka email, jangankan email, sms pun jarang saya mengirim kalo tidak penting.

Jadi semua itu tergantung anda sendiri, mau terjebak retorika email atau sms itu merupakan kubangan yang tak pernah bisa keluar, namun kalo anda bisa mendayagunakan semua itu anda tak bakalan terkena sindrom turun IQ hanya gara-gara email dan sms, banyak orang sukses yang hanya mengandalkan sms dan email, seperti sms kontent dan nsp alias nada sambung pribadi operator tertentu, kini yang dinilai sudah bikin otak, IQ atau kecerdasan, tetapi Keserakahan dan kelicikan menipu konsumen, ini lebih berbahaya dari pada kecanduan email yang mungkin ( bagi yang percaya ) menurunkan IQ. Saya sendiri nggak merasa turun IQ karena gara-gara email. Karena saya sendiri tidak sreg dengan IQ yang merupakan daya tangkap.

Mohon maaf kepada redaksi vivanews jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Sebagai penghormatan dan bentuk kerja sama, di blog ini portal vivanews mendapatkan banner link yang lumayan mencolok dan itu sejak vivanews dilaunching.

Comments»

1. Bagus Yulianto - February 16, 2009

Setuju Kang Johan.

@Bagus Yulianto@
Di milis salah satu punggawa vivanews jadi bahan guyonan soal itu. :D

2. agungfirmansyah - February 16, 2009

IQ turun jg gapapa Om.
Ga ngaruh2 amat. :D

@agungfirmansyah@
Banyak orang ber-IQ rendah malah justru menjadi orang berhasil, banyak orang berIQ rendah tak sedikit yang jadi pecundang. :D . nasib orang tak hanya ditentukan oleh IQ

3. delphiONE - February 17, 2009

Cb anda kaji metodologi penelitian,
bahwa hasil pnelitian merupakan representasi dari subjek pnelitian dengan metode/prosedur yg benar,valid dan reliabel sehingga dpt dpertanggungjawbkn kbenaranny scr ilmiah.
Jika anda ingin menyangkal, buatlah riset tandingan scr ilmiah bukan brdasarkan ASUMSI subjektif. Oke bung Yohan,sy snang bs bc tulisan anda. Sy tunggu riset tandingan anda. Salam :)

@delphiONE@
Untuk melakukan riset butuh biaya besar mas, dan bisa berbulan-bulan, sedang saya sendiri masih sibuk mencari pekerjaan. Di sini saya hanya mencoba menyangkal dengan persepsi sendiri, yang tentu saja subyektif. Jika mau obyektif dibutuhkan bahan dan biaya, dan otak saya yang justru tidak mampu sampai ke sana karena minimnya pendidikan. Blog sarana pembelajaran, tentu saja secara subyektif jika saya menilai. coba baca tentang vivanews di blog saya juga, subyektif sekali karena peneilitiannya menggunakan koneksi saya sendiri.Terima kasih.


Spam protection by WP Captcha-Free