Perjalanan Yang Menyenangkan February 14, 2009
Posted by Yohan in : Personal , trackbackHari kamis sore saya pulang ke Magelang menggunakan jasa angkutan kereta api, saya pulang karena malas menunggu uang jasa setelah “keluar” bekerja dari kantor yang terdahulu, maka secara otomatis kategori Pekerjaan kudu dioffkan dulu. Bagi saya pribadi kategori pekerjaan kurang menantang karena lebih banyak mengekspos hal-hal yang kurang bermaanfaat bagi banyak orang, kecuali orang yang berkiprah di bidang ketenagakerjaan.
Perjalanan saya sejak dari Tangerang membawa komputer tanpa casing, hanya monior dan sekardus sparepart cpu dari prosesor, motherboard, hardisk, DVD, modem dan tetek bengeknya. Hujan melanda ketika saya hendak berangkat. Sial ! jam 12 siang hari Kamis tanggal 12 Februari ternyata mendung dengan sukses dan hujan pun mengguyur tanpa malu-malu. Walau demikian saya tetap menganggap bahwa ini hari baik untuk melakukan “avonturir” sambil enjoy menikmati perjalanan. Kita tahu kalo melakukan suatu perjalanan pasti hanya ingin cepat sampai, namun saya kadang menikmati perjalanan itu sendiri dari pada mikir kapan sampai. Tujuan memang menjadi target, namun kualitas perjalanan tetap suatu hal yang penting, cepat sampai juga belum tentu menyenangkan jika di tengah jalan mendapat masalah.
Saya berangkat dengan diantar teman-teman, dengan dua motor, satu teman membawa monitor dan saya membonceng, sambil hujan-hujan dan bercanda ria, sampailah di depan Perumahan Palem Semi Karawaci. Maaf Mas Hendro dan Mas Gianto, kalo merepotkan, saya haturkan terima kasih atas bantuan anda semua. Anda memang sahabat dan teman baik saya. Hanya Gusti Allah yang membalas kebaikan anda semua. Sesampai di depan perumahan tersebut, Mas Hendro langsung pulang, Mas Gianto mengantar saya sampai Stasiun Senen.
Tak banyak peristiwa di tengah jalan karena hujan, namun ketika sampai di Jakarta justru malah nggak hujan. Memang pertanda baik, pikir saya optimis. Setelah turun dari bis, saya dan Mas Gianto masuk ke Stasiun Kereta Api Pasar Senen, tiket sudah saya beli beberapa hari yang lalu saat saya hendak bertemu dengan Kangmas di Menara Era.
Jam 19.20 kereta berangkat, dan busret hari begini tetap ramai juga, di tengah perjalanan kembali saya menikmati nikmatnya minum teh manis, kopi dan rokok serta pedagang asongan, belum lagi penumpang cewek yang cakep-cakep. Naik juga sepasang bule dari negeri seberang sono, entah kenapa, mulut saya kok rasanya lagi ogah ngomong bahasa linggis. Hebatnya lagi di dalam kereta Api Senja Utama jurusan Jogjakarta itu tidak ada yang merokok kecuali yang berada di borders alias sambungan antar gerbong, mungkin untuk menghormati tamu wisatawan, di gerbong lain malah ada yang kebal kebul tanpa permisi.
Belum dua jam kereta berjalan, perut minta diisi, rupanya teh manis yang saya beli dari petugas kereta seperti diisi ramuan yang membuat saya merasa lapar. Nasi goreng yang tersedia memang lain rasanya dengan nasi goreng yang dijajakan di jalan-jalan. Saya memang kurang suka nasi goreng yang dijual pake gerobak, nasinya kurang lemes sehingga terkesan seperti pasir. Hanya nasi goreng model Yogya yang saya suka. Tidak lebih dari 7 menit tandas juga tuh nasi goreng sepiring, harganya pun cukup mahal Rp. 12.000. Habis itu langsung saja pergi ke borders untuk melampiaskan kebiasaan buruk selepas makan, merokok. Rasanya nikmat sekali, apalagi di borders itu saya membawa segelas teh manis panas.
Kereta berhenti agak lama di Cirebon karena akan ada kereta yang akan lewat, dan sial kereta yang saya tumpangi disalip untuk kerata kelas eksekutif. Jadi dua kali dipecundangi. Kereta kembali berjalan, setengah keluar dari Cirebon saya malah tertidur di bangku saya, tahu-tahu bangun sudah lewat Purwokerto dan di luar hujan cukup deras. Jam 5 pagi saya sampai di Stasiun Tugu Jogja. Tukang angkut nmembawa barang bawaan saya, saya hendak dijemput sodara. Namun karena belum datang saya menunggu di emperan reservasi tiket Stasiun Tugu yang berada di jalan Pasar Kembang. Hiks ! pasti ada yang kenal dengan Sarkem?. Sial gerimis mengguyur kota budaya ini tanpa ampun, Bahkan tanpa malu-malu mengguyur cukup deras membuat saya kudu merapatkan jaket agar tidak kedinginan, hanya rokok yang membantu saya mengurangi hawa dingin. Lalu sodara saya datang sejam kemudian. Namun hujan tetap mengguyur. Saya paksakan tetap pulang, namun mampir dulu ke kost-kost-an sodara.
Setelah istirahat sejenak hanya minum teh manis, saya langsung istirahat tidur, jam 9 saya bangun, kemudian setengah jam kemudian berangkat ke Magelang. Hujan sudah reda. Sampai di Muntilan jam 10.30 dan kembali berjumpa dengan orang tua saya, rasanya sudah plong karena orang tua saya sendiri nggak peduli status saya, karena sudah maklum kalau nasib pekerjaan saya nggak bisa dipertahankan lagi. Makan nasi gudeg dan merakit komputer. Lalu berangkat lagi ke Magelang kemudian memasang semuanya. Jreng, komputer memyala tanpa masalah.




Comments»
Weleh2…ternyata saya harus angkat topi buat mas Yohan yang
mengakunya tidak punya ketrampilan, tapi sekali merakit
komputer langsung Jreng…tanpa masalah !!!.
Selamat untuk anda yang sudah kembali mempunyai kesibukan.
NB: saat ini saya baru mulai menjalani minggu tenang ( alias
belum ada kesibukan )
Salam,
Pengangguran.
@Pengangguran@
Tregantung diri kita mau bener2 belajar apa nggak, kalo keterampilan sih cuma urusan pc, soal lain masih nol gedhe
Vwhealah.. sido balik ndeso tapi kok nggak jadi mampir.. Lha mbok ‘maren itu dari pada sejam bengong di Sarkem rak ya mending cuci mata liyat mahasiswi bening2 di depan warung ‘nyong tho yo..
@wezoen@
Walah ! gawanku akeh Kang. Sak unit komputer. Yoi. aku lama di magelang, ntar nanti anjangsana ke tempat sampeyan
Oleh-olehe sing uakeh Kang.
@Bagus@
Nanti malah banyakan keringetan kali.