Feb 11 2009
Dari Menulis Menuju Ngeblog
Saya persembahkan tulisan ini untuk sahabat saya : Intan Ernawati Suryaningrum.
Saya terbiasa menulis sejak masih sekolah SMA, saya sendiri tidak tahu mengapa kesenangan menulis ini muncul saat SMA, padahal sejak SD sampai SMP saya paling benci dengan namanya mengarang. Setiap pelajaran bahasa Indonesia jika disuruh mengarang pasti akan keluar gerutuan yang tidak bermutu. Malah saya justru suka diolok-olok guru bahasa Indonesia sejak SD sampai SMP karena mempunyai satu slogan : Benci membuat karangan tulisan, bahkan malah pernah disetrap Kepala Sekolah karena membangkang tidak mau membuat tugas karangan. Apapun PR itu berupa karangan, pasti saya tidak akan mengerjakan. Alasan klasik ya karena nggak suka menulis yang bertele-tele.
Namun menginjak SMA beberapa tahun lalu, saya gemar menulis, karena waktu itu saya diserahin tugas sebagai staf redaksi majalah dinding, inipun juga tanpa kesengajaan, waktu itu saya terbiasa mendekorasi spanduk jika ada tertentu di sekolah. Lalu salah satu pimpinan redaksi meminta saya ikut dimasukan dalam staf redaksi. Tugas pertama tidaklah sulit memberi warna pada majalah dinding dengan huruf menarik dan pernak pernik warna. Namun belum sebulan menjabat saya langsung diserahin tugas memimpin rekan-rekan, karena waktu itu kakak kelas hampir lulus. Tak ayal , ini membuat saya pusing, kemampuan menulis tidak ada, bahkan mempunyai ciri khas membenci menulis karangan.
Bisa anda bayangkan, jika anda bukan pemain bola, namun anda dipanggil timnas untuk meperkuat lini depan dalam mencetak gol. Anda pasti stress dan menolak mentah-mentah, namun didalih dengan demi membela bangsa dan negara, anda mau berkata apa ? mau dibilang tidak nasionalis ? Pembangkang bahkan bisa dibilang PKI.
.
Seperti biasa saya kudu membuat tulisan sambutan, sepulang sekolah saya berada di ruang tempat membuat majalah dinding, saya berada di depan mesin ketik selama setengah jam juga belum mampu membuat kata-kata yang pas, bahkan malah bengong tak tentu arah di depan mesin ketik, malah saya lebih banyak menulis menyumpahin mereka yang merekrut saya. Entah bagaimana, namun dengan dorongan teman dekat saya, dhuh saya jadi inget teman baik saya selama ini yang belum pernah ketemu lagi sejak saya suka berkunjung “mengapelinya” di Cikoko Jakarta Selatan. Intan Ernawati Suryaningrum, nama teman dekat saya itu. Intan, maaf jika aku menyebut namamu di sini, ini semata-mata tulisan ini kupersembahkan untukmu. Maafkan daku jika selama ini aku sudah tidak hadir dalam hari-harimu, namun sahabat tetaplah sahabat. Terima kasih atas semua dorongan yang engkau berikan, sehingga aku bisa mengembangkan bakatku yang justru terpendam sangat dalam dan kini semakin terkuak dan tentu saja sangat bermanfaat.
Maaf ! kalo saya terlalu larut dalam nostalgia masa lalu, bagaimana enggak, dia adalah cewek cantik yang sangat baik. Walau dia adik kelas saya namun dia adalah pendorong saya menjadi penulis seperti sekarang ini. Senyumnya yang manis selalu membangkitkan apa yang ada di otak saya, candaan dan kritikan, bahkan tidak sedikit dia mengeluarkan uang untuk membeli makanan untuk seluruh kru majalah dinding. Sayang seribu sayang, nahas memang photo-photo waktu SMA hilang tak berbekas, saat itu saya merantau ke Tangerang. Dhuh ! padahal saya masih rindu akan dia.
Tentu saja sebagai kru majalah dinding saya kudu membuat tulisan, dipaksa dan terpaksa adalah merupakan pekerjaan yang kudu digarap. Tidak ada rotan akarpun jadi. Kebetulan saya saat itu sudah bisa mahir mengoperasikan program komputer Wordstar yang berbasis DOS, alhasil saya menulis apa saja. Lambat laun saya akhirnya bisa menulis, bahkan saya sangat rajin datang ke perpustakaan mencari bahan dan saya jiplak namun saya putar balikan kata-katanya. Dikira seperti orisinil namun ketika saya kasih bukunya, mereka langsung tertawa. Waktu itu saya hanya unggul dalam bidang matematika bawaan SMP. Saya mengembangkan bakat menulis ini saat saya kelas 3 SMA. Kemunculan Megawati Hartono yang menjadi kru majalah dinding itu membuat saya naksir berat. Sayang cinta betepuk sebelah tangan, saya ditolak mentah-mentah karena saya bukan orang cina, maklum dia turunan cina. Manalagi anak semiskin saya mendapatkan anak gedongan juragan engkoh cina. Lacak sana lacak sini, bujub kalo nggak salah sudah menjadi dokter dan berdomisili di Pekalongan.
Dulu saya sering memborong tulisan majalah dinding sampai 60 %. Hanya sayang saya tidak suka menggunakan bahasa ilmiah, bahasa saya cenderung guyonan dan sangat tidak bermutu, tapi kok ya bisa mejeng ya? lha namanya kru ya pasti dipajang. Malah ada yang mengatakan satu edisi adalah majalah dinding versi MacGyver. Maksudnya saya dulu pernah dipanggil MacGyver, gara-gara saya memanggil Megawati dengan nama Meg, maksudnya biar seperti Meg Ryan, malah teman-teman nyebut saya MacGyver. Dasar anak A1, bicara apa saja nyerempet ke Fisika, namun anehnya kini saya justru malah tak menyentuh Fisika sama sekali dalam tulisan saya.
Selepas saya lulus SMA dengan nilai yang biasa saja, saya masih dipingit membimbing kru majalah dinding, bahkan sempat pula ada SMA lain yang studi banding dalam membuat majalah dinding. Akhirnya saya terdampar di Tangerang merantau bekerja, namun saya masih tetap datang ke sekolahan dulu ketika mudik. Di sini saya kehilangan Intan yang tak tentu rimbanya, saya sempat melacak ke rumahnya, kakaknya yang sekelas saya juga tak ada kabar. Sedih rasanya, di Tangerang saya tetap menulis surat untuk pendorong dalam menulis ini ke rumahnya di Perum Griyo rejo Indah Mertoyudan Magelang. Surat demi surat tak satupun terbalas. Sudah dah ! walau dia sangat berjasa padaku kalo sudah tidak ketemu mau dikata apa.
Namun saat saya masuk kerja, di meja saya terdapat surat dengan sampul yang cukup menarik, tulisan tangan yang di depan sampul seperti saya ingat beberapa tahun yang lalu. Ketika saya balik, ya Tuhan ternyata dari Intan, tidak beralamat di Magelang namun di Cikoko Barat jakarta Selatan, bahkan memberikan nomer teleponnya segala. Akhirnya saya datang ke sana, namun malah sedikit gemuk tanpa tetap seksi ! Dhuh ! Makan apa kamu ndhuk sekarang beda banget. saban 2 minggu saya mengapelinya walau kami berjanji tidak menjadi pacar, persahabatan tetap persahabatan.
Kebiasaan menulis yang saya lakukan sejak SMA kini saya lampiaskan dengan ngeblog, kadang saya heran menulis betapa sangat lancarnya, bahkan suka membuat tulisan ngawur tanpa sistem yang jelas, bahkan tidak menggunakan struktur bahasa yang baik. Malah cenderung vulgar
. Namun semua ini adalah suatu proses. There is no finish line.
Namun Intanku kini sudah hilang lagi beberapa tahun lalu, saat saya semakin sibuk dengan urusan ketenagakerjaan dan pekerjaan. Sampai kini pun saya juga sudah tidak bertemu Intan lagi. Saya akuin dalam hati kecil saya, saya memang mencintainya.
Intan, jika engkau membaca blogku ini, kuingin kembali bertemu. Terima kasih atas doronganmu Intan. Tuhan selalu bersamamu. My prays always to accompany in your life and something happened on the way to heaven.







wah.. asik juga nostalgianya ya mas…
emang kadang2 kita suka larut lagi ke peristiwa masa lalu. salam sukses aja selalu dan teruslah menulis
@hamkani
Iyalah, there is no finish line, apa saja ditulis kok, tremasuk hutang. hahahahaha