Usaha Atau Kerja ? February 5, 2009
Posted by Yohan in : Global , trackbackHari ini saya dihadapkan pada masalah di milis finance yang membahas masalah enakan mana kerja atau usaha. Untuk itulah dalam mengisi blog ini, ide apapun lahir dengan begitu saja. Tanpa pikir panjang langsung ngeblog, padahal masih ada beberapa draft yang belum kelar, seperti postingan tentang Ngantuk, Keseksian Artis Volume II, Seluk Beluk Hardisk, Prosesor Core i7, Chipset Nehalem cs, Soal Merokok, Parpol, dan lain lain masuk dalam draft namun hanya diisi separagraf. Payah nih ! Maklum sebagai penulis kelas kacangan yang tidak punya basic pendidikan tinggi seperti saya sah-sah saja mulur.
Terkadang menulis juga tak selancar apa yang ada di benak kita, ide sudah ada, namun otak susah diajak keja sama untuk menguraikan secara detil, cara seperti ini bisa diakali dengan mencoba nulis yang lain dan nanti disangkutpautkan. Di situ akan muncul kreatifitas kita sebagai penulis. Jangan pernah menganggap blog hanya sebuah tulisan, blog adalah media komunikasi, jika ada pengusaha atau relasi dan membaca blog kita kemudian tertarik membangun usaha atau dijadikan karyawan dengan gaji gedhe khan itu rejeki. Menulis itu sarana mengekspresikan diri kita. Dan tentu saja tulisan biasanya mewakili watak sang penulis jika dilihat dari gaya bahasanya. Seperti saya gaya bahasanya campur aduk, namun saya menyukai gaya bahasa Raymundo Pannikar, seorang mistikus dari india yang larut dalam kehinduannya. Gaya bahasa Raymundo Pannikar tidak menggunakan bahasa akademis namun penggunaan gaya bahasa dialog, menggunakan kata “saya” dan “anda”, sehingga pembaca terlibat dalam suatu petualangan religius. Salah satu yang mempengaruhi saya adalah bukunya yang terkenal The Intrareligious Dialogue. Ini buku favorit saya setelah novel James Redfield yang membahas perjalanan spiritual dengan Manuskrip Celestine-nya
Mana sih yang enak antara jadi karyawan atau pegawe dengan usahawan, saya pake usahawan bukan pengusaha. Pilihan ini ada kelemahan dan kelebihan, jadi pegawe kantoran, musti saban hari berangkat pagi, pulang sore bahkan malam, terikat peraturan UU tenaga kerja, kudu ngikutin aturan atasan, terlambat disemprot, kudu berprestasi agar gaji dan pangkat naik, bisa ikut pendidikan di luar kota bahkan luar negeri, saban bulan gajian kagak usah takut menghidupi selama sebulan (kecuali anda merasa kurang dengan gaji anda), asal gaji anda sudah menenuhi UMR bukan salah yang memberi gaji.
Menjadi usahawan, kudu cari bahan baku untuk usaha, pintar cari konsumen untuk mendongkrak pendapatan, membangun relasi, kudu promosi dengan murah atau gratis, keuangan kudu diatur secara ketat jangan sampai kegedhen empyak kurang cagak alias besar pasak dari pada tiang, harus bisa membedakan antara uang pribadi dengan uang usaha, tidak memberikan utang barang jika menjual barang kecuali memang bergerak dalam bisnis yang menggunakan sistem kreditan, enaknya jadi usahawan, tidak ada yang ngatur kapan mau kerja, kalo malas atau lagi saikit alias nggak enak badam ya libur dulu, jika ada perlu kondangan nggak usaha pake ijin layaknya pegawe kantor.
Nah kini terbentang pilihan, semuanya mempunyai plus minus, namun menjadi usahawan bagi saya pribadi menganut pepatah “tidak semua orang mampu jadi usahawan dan tidak semua orang terpanggil untuk itu”. Dibutuhkan keberanian untuk mengambil segala resiko yang ada, sekalipun di masa sulit seperti ini yang terlindas krisis global. Namun kalo kita percaya pada diri sendiri dan merasa yakin maka niscaya keberhasilan akan nampak, setidaknya usaha kita bisa mencukupi kebutuhan selama sebulan dulu, orang dagang yang penting bagaimana tidak nombok, untung bisa dipikirkan kemudian dengan menambah produk, prinsip orang jawa (maaf bagi anda yang bukan orang jawa), kerjo golek mangan ojo golek duit dhisik artinya kerja itu untuk cari makan, jangan cari duit dulu. Lha untuk makan khan pake duit ? Terserah bagaimana anda mengartikan karena ini ajaran luhur jawa yang merupakan warisan yang kudu dilestarikan (idih ! sampai ingat Mbak Lestari, janda cantik warung sebelah). Untuk itulah diperlukan konstelasi pikiran ah bahasanya kok akademis sih, anggap saja pola pikir yang bisa menentukan target tertentu dalam menghasilkan duit ( duit maning ! ). Pendek kata menjadi usahawan juga tidak sesulit yang diduga asal kita mau saja. Namun yang saya dapatkan selama ini dalam memberikan konseling, wah kayak psikolog yak. Banyak teman yang berasal dari tempat kerja yang frustasi setelah kena pecat dari kantor meminta tolong saya memberikan solusi dalam usaha untuk menghidupi keluarganya. Bujub ! orang cuma bisa jualan komputer dimintai konseling soal ginian. Tak apa, namanya teman disinilah gunanya, dimanfaatkan dan memanfaatkan asal dalam nilai positif. Jangan pernah mengabaikan teman.
Ada satu hal yang membuat saya sering mengusir orang jika minta konseling, maaf ya saya kejam banget, bukan maksud saya menyakiti kok. Setelah saya kasih solusi dalam usaha, misal bidang ini, jawabannya klise. “Ah saya malu bikin usaha kaya gitu”. Bagaimana membuat usaha dalam kondisi sulit seperti ini tetapi didesak untuk menghidupi anak istri, uang yang ada kudu cepat-cepat diputar ( dalam piring kali ) dan menghasilkan. Dikasih A bilangnya alasan ini, padahal saya berani kasih modal, kalo gagal nggak usah dibayar. Bukan saya banyak duit, bukan. Karena saya prihatin, dia teman baik yang sering membantu saya di kala susah dulu, maka saya bantu balik. Kembali rasa malu menerpa. Dhuh ! kalo sudah pake kata malu susah dan nggak bisa untuk menjadi usahawan, ya dah cari kerjaan saja, karena dia ditakdirkan jadi kacung, bukan calon juragan. Banyak pengusaha besar yang dulu cuma mendorong gerobak, jualan pikulan, bahkan ada yang mantan pemulung ( pemulung internasional, mulungi pesawat terbang
.)
Menjadi juragan pasti impian semua orang, entah dalam bentuk kacung di kantor atau usaha sendiri. Menjadi seorang juragan awalnya dibutuhkan kerja keras, kecuali dapat warisan usaha orang tua, itu memang ditakdirkan jadi juragan entah kalo bangkrut itu urusan lain. Menjadi pegawe malah belum tentu merupakan warisan, anda kudu mencari lowongan kerja dulu, bahkan sogok sana sogok sini agar diterima. Udah gitu dalam penyaringan pegawe dilakukan sistem gugur bukan dengan nilai rata-rata, maksudnya jika ada seribu pelamar diadakan sistem gugur akan hilang separo dalam waktu singkat. Mungkin saja ada yang sial, sudah pintar tetapi kalah, kurang licik kali. Namun ada pula yang bodoh tahu-tahu lolos dan diterima jadi pegawe, ini mah kemungkinan nyogok.
Tidak ada yang salah jika ada orang memang betah menjadi pegawe, karena memang lebih suka bekerja dengan menjadi kacung, menjadi kacung bukan merupakan suatu aib, menteri-menteri di kabinet juga kacung kok. Malah menjadi pegawe itu enak, bisa banyak teman sehingga bekerja secara team dan cepat kelar maka bonuspun cepat turun. Enak khan ! Bandingkan dengan penjual sayur, pagi jam 01 saat orang pada ngorok dan kelonan atau main seks sama suami atau istrinya
, dia malah keluyuran di pasar cari bahan jualan. Udah gitu pulang dari pasar kudu milah milah dan ditata di gerobaknya.
Namun tak sedikit ada usahawan yang bekerja seperti layaknya pegawe kantor, misalnya usaha las atau bengkel, biasanya kalo sudah gelap akan tutup lapaknya dan pulang layaknya pegawe kantor, atau jualan nasi di depan pabrik, kalo sudah malam pasti akan pulang, kecuali warungnya memang sekaligus tempat tinggal. Tidak ada istilah yang baku bahwa menjadi usahawan akan kaya, kaya atau tidak, bukan ditentukan oleh jenis apa yang yang dipilih, entah jadi usahwan atau pegawe, malah ada pegawe bisa beli mobil sedang usahawan beli sepeda motor saja kagak mampu. Namun menjadi usahawan lebih bebas menentukan waktu dan kebebasan berusaha, sedang orang kantoran dikengkang dengan seribu satu perintah kantor yang kudu ditaati atau dipecat.
Semua mempunyai nilai plus dan minusnya, hanya saja disini ditentukan apa yang namanya syukur. kalo orang tidak bisa bersyukur ini jadi urusan yang repot dan menjadi serakah. Hari ini saya mendapatkan uang dari service komputer hanya Rp 20.000, saya syukurin. Mensyukuri hasil kerja sendiri sungguh nikmat sekali. Tidak bisa sembarang orang bisa melakukan seperti yang saya lakukan.
Yang penting jadi usahawan jangan percaya pada takdir dulu, sebelum mencoba jangan percaya pada kesimpulan. Ibaratnya kita hendak menyelam air, kita beranggapan bahwa air itu dingin. Namun saaat sudah nyemplung bilang “Wah segar ! nikmat”.
Jadi pilihan semua tergantung anda, jika tidak betah jadi kacung kantoran berpindah haluan menjadi usahawan, kalo memang tidak cocok jadi usahawan ya jadilah pegawe, masih belum cocok ? jadilah dua-duanya, setengah usahawan setengah pegawe. Jadi pegawe mempunyai usaha sambilan yang bisa mendongkrak pendapatan. Ini diperlukan pembagian waktu yang disiplin kalo tidak mau keteter menjalankan keduanya. Mempunyai usaha sambilan bisa menjadi senjata terakhir ketika dipecat dari kantor. masih banyak peluang lain jika anda mau mencarinya. Buanglah rasa malu, karena malu bisa menghambat keberanian dan kreatifitas.
Doa saya untuk rekan-rekan yang menjadi korban krisis global, semoga bisa menemukan pekerjaan baru atau menjadi bisnisman yang sukses. Jangan pernah takut menghadapai hidup ini. Ingat pepatah jawa. Uwong ora bakalan kenteken sego, nek kentekan duit biso. Maksudnya kita bisa kehabisan duit, namun kalo kehabisan nasi kebangetan, jarang atau malah belum pernah saya denger ada orang mati kelaparan, kecuali saat terjadi bencana atau tersesat di hutan.




Comments»
janda cantik warung sebelah itu kyknya dah beberapa kali disebut di blog ini. tapi koq gak ada link-nya??
@emmet24son@
halah, kalo ada makhluk kek kayak gitu mulai keluar tuh isengnya, btw nggak mau dishoot dia.