jump to navigation

Akhirnya XL Kembali Terjun Di Unlimited February 26, 2009

Posted by Yohan in : Informasi-Tekhnologi , 1 comment so far

Kemaren saya otak atik widget di blog ini memasang rss dari detik.com dan vivanews.com. Untuk detik saya hanya memantau pada detik.com saja tanpa masuk ke sub detik.com lainnya seperti detikinet.com, detiksport.com, atau detikhot.com. Untuk vivanews.com saya memasang rss hanya untuk kolom teknologi, dimana Bang Pirman, sobat karib saya menjadi penulis handal di portal vivanews.com. Saya bangga deh punya sobat seperti Bang Pirman, sebagai seorang sobat saya selalu mendukung penuh berkiprah untuk memajukan dunia IT Indonesia lewat berita teknologi.

Jauh sebelum saya kenal Bang Pirman saya banyak belajar dari tabloid PCPlus, bahkan saat itu Bang Pirman juga merupakan salah satu awak redaksi PCPlus. Pindah ke Redaksi InfoKomputer saya pun beli majalah InfoKomputer. Sekarangpun beliau pindah ke portal vivanews.com saya pun ikut membaca tulisan Bang Pirman yang bahasanya jauh bener dengan di blognya, di blognya banyak menggunakan bahasa sms. Maklum karena langganannya belum unlimited jadi irit bandwith dulu.

Setelah kelar pasang rss, tiba -tiba ada berita heboh, tak lain adalah XL Luncurkan Prabayar 3.5G Unlimited, akhirnya Pro XL ikut bertempur di unlimited dalam urusan data, namun dalam hal ini XL hanya terfokus pada prabayar, untuk pascabayar malah belum ada kabar, ini kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya internet menjadi tumbuh lebih cepat, kabar buruknya lalu lintas data menjadi padat. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa urusan data bagi operator GSM dan CDMA adalah nomor sekian dibanding urusan voice bahkan sms. Harga bandwidth yang mahal menyebabkan operator kurang maksimal mengurus urusan data. Bisa anda bayangkan berapa jumlah pelanggan Indosat yang “ngamuk” karena akses internetnya banyak yang modhar, dan rata-rata pelanggan Indosat unlimted adalah pascabayar dan masih ditambah yang prabayar. Ini kecerobohan pihak Indosat yang tidak dewasa dalam mengurus traffic data. Awalnya dijanjikan speed yang stabil, beberapa minggu kemudian praharapun melanda, Indosat kebanjiran traffic yang menyebabkan pelanggan kecewa.

Kemunculan XL unlimitedpun menggunakan prabayar sungguh riskan karena pemakaian dengan cara demikian susah dikontrol, namun kalo Xl memang sudah memperhitungkan dengan tidak sembarang kartu bisa, saya yakin tetap saya akan terjadi bottleneck di traffic. Internet itu ibarat mobil versus jalan, jalan memang ada tetapi kalo mobil banyak ya sama saja, tetap saja macet. Jadi saya berharap setelah tercapai sekian user lebih baik XL menutup pelanggan baru dari pada menyusul kompetitornya dari Indosat yang membuat jengkel pelanggan. Ciri khas operator GSM dalam urusan data adalah menambah user dulu, kemudian menggupgrade bandwidth. Kucluk !, kapan mau tobat ? untung menjadi nomer satu, urusan kualitas nomer dua, kapan mau maju ini negara dalam urusan teknologi kalo begini terus, nggak cuma XL, semua operator melakukan hal yang sama dengan mengorbankan kualitas.

Jauh dulu XL pernah menelurkan XL Unlimited Corporate dalam urusan data yang lazim disebut dengan XL Corporate di mana harganya memang hampir 2-3 kali lipat yang sekarang, namun saat itu berbasis GPRS, namun saya lebih cenderung mengakui bahwa XL Unlimited GPRS dulu memang lebih stabil. Bahkan saat saya berlangganan XL Mega Data jarang terjadi hang, diskonek, error dan sebangsanya.

Namun saya menyambut baik niat XL terjun di unlimited terlepas dari kualitas dan kuantitas, melihat jaringan XL yang 3.5G kurang begitu banyak di Indonesia dibanding dengan Telkomsel dan Indosat, saya beharap agar XL cepat-cepat mengupgrade beberapa BTSnya agar lebih memperhatikan urusan data. Internet sudah menjadi kebutuhan. Peminatnya semakin banyak dan pasti akan menggerogoti pemakai voice dan sms. Sudah saatnya pemakai data mendapat tempat yang setara dengan pemakai voice dan sms, internet menjadi kebutuhan tetapi menjadi anak tiri bagi kalangan operator. Wah nasib

Hidup Untuk Belajar February 25, 2009

Posted by Yohan in : Seni , comments closed

Sudah belajar belum ? kalo belum belajar segera belajar biar anda tidak dikerjai orang. Satu kalimat ini selalu menyita pikiran saya, walau saya bukan kaum terpelajar namun saya tetap selalu belajar. Nah pertanyaannya mana yang mau dipilih : Belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar ? Mari kita ambil contoh. binatang buas sejak mengikuti induknya dia akan belajar untuk dapat mencari makan, sang anak dijari induknya bagaimana cara mengejar mangsa, bagian mana yang mematikan jika mangsa tertangkap, semua diajarkan, kalo sang anak sudah mampu memangsa sendiri, selesailah tugas belajar dari induknya. Jadi ini adalah belajar untuk hidup. Atau kita sendiri, sekolah sejak dari TK sampai perguruan tinggi, membaca buku, menggarap PR, membuat karya tulis sampai skripsi, begitu dapat pekerjaan semua ilmu tidak dipakai. Sarjana pertanian bekerja di bidang administrasi perkantoran, sarjana hukum bekerja di bidang ekonomi, ilmu tidak dapat diterapkan, bahkan pintar fisika malah jadi polisi. Jadi salah kaprah, bukan salah yang bersangkutan, namun kondisi yang ada mengharuskan demikian.

Kita tentu tidak ingin seperti itu bukan, selesai sekolah selesai juga belajarnya, belajar tidak kenal kata selesai, sekalipun anda sudah pintar, pandai, cerdas. Kita selalu ingin apa yang kita pelajari kelak menjadi mata pencaharian. Namun tidak ada salah jika sarjana pertanian jadi administrasi perkantoran. Dia bisa menerapkan ilmu pertaniannya pada adminsitrasi perkantoran, bukan dengan jalan menanam tanaman di kantor, namun lebih pada pelaksanaan sistem, menanam butuh sistem, tidak sekedar begitu tanam lalu nunggu panen, kalo musim hujan kebanjiran , musim panas kekeringan. Wah repot ! Kantor butuh sistem tertentu, seperti halnya bertanipun perlu sistem, dan bertani bukan hal yang sederhana, tidak sembarang orang bisa bertani, tapi kalo cuma nyangkul bisa, nyangkul hanya butuh tenaga, namun bertani butuh keuletan seperti halnya menjadi seorang sarjana pertanian.
Bicara masalah belajar bagi saya sendiri mengenal kata : There is no finish line, tidak ada batas akhir untuk belajar, kita dapat belajar pada siapa saja, pada sesama, manusia hewan, tumbuhan. Belajar mencermati kehidupan, belajar mencari apa yang terbaik bagi kita dan sesama. Kita tentu tidak menginginkan, setelah selesai sekolah, maka selesailah tugas belajar kita, ini namanya sekolah cuma cari ijasah. Ijasah bisa dicari atau dibeli namun ilmu tidak bisa dibeli, namun kudu dipelajari bahkan dijiwai.

Belajar adalah merupakan landasan untuk berhasil, kita bisa belajar dari kegagalan, manusia punya otonomi dalam dirinya. Seorang Bill Gates yang tidak lulus kuliahpun menjadi orang sukses dan menjadi orang terkaya didunia. Bill Gates tak pernah berhenti belajar. Karena Bill Gates adalah kaum terpelajar.

Tidak ada satupun manusia yang berhasil di dunia ini tanpa belajar, SBY menjadi presiden pun juga butuh belajar, bahkan koruptorpun butuh belajar bagaimana cara mengkorup uang negara tanpa diketahui KPK :D . Semua butuh pembelajaran tanpa terkecuali, namun cara belajar mereka berbeda, SBY belajar mengamati kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara berpolitik, koruptor belajar dengan cara menghindari undang-undang dan KPK saat berusaha menilep uang negara, sogok sana sogok sini, pura-pura tidak tahu.

Namun, tak sedikit diantara kita yang malas belajar, bangsa kita menjadi tertinggal, kita tak pernah belajar dari sejarah yang pernah dipernah didengungkan oleh Bung Karno dengan jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, kita hanya belajar untuk ke depan, masa lalu biarlah berlalu, saya suka menyentil anak sekolah agar ingat masa lalu, siapa nama presiden RI, jawabnya pasti SBY. Salah ! Kenapa salah ? ya presiden RI hanya satu Ir Soekarno, lha Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY apa bukan presiden ? Maaf nak, kelima tokoh tersebut hanya penggantinya :D . Saya bukan pendukung Bung Karno kok, namun saya sangat respek sama proklamator ini, beliau adalah orator ulung, tidak ada satupun yang bisa menyamai beliau, bahkan anaknya yang pernah jadi presiden sangat jauh sekali. Cuma membawa semangatnya saja, tetapi sikapnya sangat jauh. Malah saya tidak suka sama Mbak Mega, alasannya ya sepele, memang nggak suka. Saya tidak suka politikus, saya suka yang monotikus.

Jauh sebelum Bung Karno, kita mengenal seorang yang berwarna hitam dengan wajah yang seram namun bisa mempersatukan nusantara ini, tak lain Mahapatih Gajah Mada, satu-satunya patih yang punya gelar Maha Patih, tak ada ada yang lain, sebelum menaklukan Nusantara ini Gajah Mada pasti belajar dulu tentang ilmu perang, kenegaraan, negoisasi dan lain sebagainya, tak mungkin Gajah Mada asal nyerbu. Bisa mati konyol.

Kembali ke diri kita, apakah kita masih belajar sampai hari ini, belajar dari kehidupan. belajar dari sekitar kita, semua punya harmoni yang bisa menjadi sabahat kita dalam belajar, belajar tidak harus membaca buku, belajar mengamati, belajar dengan anak kita, tinggal bagaimana hal itu bisa meningkatkan kualitas hidup kita. Kita selalu mendikte anak kita agar mengikuti kemauan kita, padahal anak sendiri juga punya kemauan sendiri yang berbeda dengan orang tuanya. Saya selalu membiasakan adik atau keponakan jika tak mau belajar, tak mau tidur siang, saya selalu menanyakan alasannya. Dengan mengajaknya bicara demikian saya ingin menumbuhkan kesadaran. Nggak nggarap PR alasannya apa, nggak tidur siang alasannya apa, bukan dengan membentaknya, tidur sana, nggarap pr sana, belajar sana. Anak tidak suka dihardik. Jadi hidup itu butuh alasan, termasuk belajar juga butuh alasan, karena belajar itu merupakan bagian hidup kita.

Belajar tidak usah menunggu hari esok, bahkan belajar tanpa bukupun bisa, tinggal kreatifitas kita saja, belajar mengamati sehingga kualitas hidup kita meningkat. Ah ! bahasan yang tidak bermutu karena saya lagi agak malas menulis, hawa dingin di kota Magelang telah mematok otak saya hanya sekian persen. Huh !

Saat lagi asyik-asyik menulis ini ditanya sama ponakan saya, “Paklik, kenapa belum tidur ? alasannya apa ?” Matiiiii aku ! :D .