jump to navigation

Wong Ndeso, Ejekan Yang Salah Kaprah April 20, 2010

Posted by in : Spiritualitas , comments closed

Dalam pelajaran bahasa Inggris dan Indonesia kita pernah mengenal kalimat “meaning is use” arti dalam penggunaan, setiap kata atau terma mempunyai arti dalam penggunaan. Dalam tulisan ini saya hendak memaparkan apa arti kata “wong ndeso” yang sudah terplintir dan jungkir balik di mata orang yang tidak mengerti arti sebenarnya dari “wong ndeso”, dua kata ini sungguh menjadi kata yang tajam dan bahkan menyakitkan jika diintonasi dalam tekanan suara yang keras dan kesannya mengejek. Wong bukan bahasa Cina atau Mandarin seperti halnya Wong Fei Hung, tokoh silat Cina yang kesohor, wong adalah bahasa jawa yang artinya manusia atau personal. Kemudian kata “ndeso” atau lebih suka diplesetkan dengan istilah “ndesit” yang artinya kuno, jorok dan lain lain yang tidak enak didengar, ndeso sendiri berasal dari kata deso yang artinya kampung pendalaman yang jauh dari budaya kota yang sok modern, sok kebarat-baratan dan sok kemaki merasa dirinya bisa menaklukan kota, walau dalam dirinya memang lebih bodoh dari wong deso. Penambahan huruf “n” punya maksud tertentu, arti ini bisa ditangkap sebagai sifat atau sikap, hanya penekanan intonasi suara tentang kata “wong ndeso” ini akan mempunyai arah tersendiri. Namun kata wong ndeso ini sudah semakin salah arah, salah kaprah bahkan salah kampret.

Pertama saya akan mengupas makian kata ini, seperti yang kita lihat jika ada orang jorok, “dasar wong ndeso”. Ngapain sih wong deso kok dijadiin bahan untuk mengejek ? Salah apa mereka ? Cobak lihat, lha wong mereka nyangkul di sawah, tidak ada niat merusak warga kota, malah justru menghidupi warga kota dengan apa yang mereka tanam. Persepi wong ndeso itu jorok dan nggak tahu aturan adalah merupakan penjajahan wong ndeso dan kudu dinetralkan kembali, karena ini sudah melanggar pasal 335 ayat 1 KUHP sebagai perbuatan tidak menyenangkan wong ndeso dan bisa dijerat dengan hukuman penjara di hotel prodeo maksimal 1 tahun dan atau denda empat ratus lima puluh ribu rupiah.

Hidup memang keras, tapi hidup sederhana dianggap wong ndeso, kampungan, udik, tak tahu malu, nggak ngerti, blo’on dan sejuta seribu satu sampah tak jelas kemana arahnya, lha wong dua kata itu hanya dibuat untuk mengejek seseorang, yang jelas yang diejek tentu bukan orang desa tapi justru orang kota. Lha kenapa orang desa nggak pernah ngejek warganya dengan istilah : wong kutha alias orang sok kotaan. Wah .. kalo itu sih wong ndeso nggak minat ngejek wong kota, palingan yang diejek justru malah hama tananam, musuh utama para petani.

Menjadi orang ndeso bukan merupakan aib, menjadi wong ndeso adalah kembali menjadi manusia, kita semua asalnya memang wong ndeso, Pak Harto contohnya, beliau juga wong ndeso, bapaknya wong ndeso, ibunya wong ndeso, mbahnya wong ndeso, namun menjadi presiden justru karena asalnya dari ndeso itu maka Indonesia pernah mencapai swasembada pangan. Malah ekspor beras keluar negeri segala, cobak anda renungi, wong ndeso bisa ekspor padi beras, lha wong kota bisa ekspor apa ? ekspor kekerasan yang selama ini membumbungi berita di media cetak dan elektronik, ekspor budaya demo ? ya memang dari kota ada yang dieksport seperti barang-barang macam ekletronik, tapi khan bahan bakunya dari wong ndeso juga.

Coba anda tanyakan bapak, ibu atau kakek nenek buyut anda, dari mana asalnya, jawabnya palingan : soko ndeso nak, namun tak sedikit yang malu mengaku demikian seperti yang sering saya dengar, alasannya sih sudah trauma dengan istilah wong ndeso, ada banyak pula yang bangga menyebut wong ndeso, menjadi wong ndeso adalah sebuah impian, jauh dari hingar bingar kesumpekan kota, berpacu dengan waktu, macet, polusi, dan tetek bengek lain yang memusingkan kepala.

Wong deso adalah sederhana, apa adanya, nrimo ing pandum, bukan dalam arti jorok yang selama ini disalahkaprahkan, membuang sampah sembarangan jika ditengah kota akan dicap sebagai wong ndeso, padahal wong ndeso nggak pernah buang sampah sembarangan. Lha kok wong ndeso yang disalahkan. Bahkan ketika anda tidak tahu apa-apa masih dicap pula menjadi wong ndeso, memangnya wong ndeso nggak tahu apa-apa, cobalah berpikir arif, anda jangan berpikir secara sempit, menanam padi itu tidak gampang, jangankan nanam padi, ngarit itu juga nggak gampang. Kalo cuma satu dua kali mah itu semua orang bisa, coba selama sebulan suruh ngarit. bisa kutungan tuh tangan.

Saya pribadi termasuk orang kota yang masih juga menggunakan kata “wong ndeso” sebagai bahan ejeken teman, ngaku juga saya yak, bisa-bisa warga desa melaporkan saya ke polisi dengan alasan melakukan perbuatan tidak menyenangkan warga deso. Apa lacur, kata-kata ini sudah melekat dalam tradisi kita. Namun seiring dengan perkembangan jaman saya lebih suka menggantikan dengan nama yang agak kebarat-baratan : newbie atau indobanget, pemulanya dari segala pemula, penggunaan ini merupakan tradisi warga dunia maya terutama dunia informasi dan teknologi dan tidak ada sangkut pautnya sama penduduk desa. Setidaknya tidak menjadikan wong ndeso sebagai bahan obyekan.

Kembali ke soal terminologi, kata wong ndeso mempunyai dua makna, yang pertama sebagai ejekan dan kedua sebagai impian … nah lho ketahuan belangnya, jaman muda suka mengejek dengan kata “wong ndeso” ketika masa pensiun ingin menjadi “wong ndeso” piye jal ? manungso kok susah pikirannya, bodo kok dipelihara, yang benar dianggap salah dan salah dianggap benar. Jaman muda suka menghindari yang berbau ndeso, ketika tua ingin menjadi ndeso. Inilah hebatnya ndeso, dibenci, disingkirkan, diejek, ketika kita masih muda dan dirindukan ketika hendak menjadi tua. “Suk nek wus tuwo, aku pengin tinggal nang ndeso wae, hawane seger lan ora akeh polusi, dibanding nang kutho akeh polusi lan polisi”. Seolah-olah menjadi wong ndeso sebagai pelampiasan beban hidup di jaman muda, kembali menjadi “manusia”, kembali ke asal muasalnya bahwa kita semua memang asalnya dari ndeso.

Kita tidak perlu menghilangkan kata wong ndeso sebagai bahan ejekan, biarkan saja apa adanya, jika anda tidak suka dan ingin menghargai wong ndeso ya jangan gunakan kata-kata itu, ganti dengan kata lain yang lebih pas. Budaya adalah budaya, tradisi adalah tradisi, seperti yang dikatakan oleh budayawan dari Tutup Ngisor Bapak Sitras Anjilin yang saya temui hari senen kemaren bersama Romo Mintoro ( Romo dari Kanisius ) dan Anton dari Paroki Sumber, kita tidak perlu memaksakan budaya, kalo memang sudah tidak mau ya sudah, jangan jadikan beban hidup. Namun budaya desa yang asri, bersih, gemah ripah loh jinawi akan tetap akan menjadi kerinduan semua orang, termasuk anda-anda yang masih sering memakai ejekan wong ndeso. Marilah kita mawas diri.

Bersama Wong Ndeso Menggapai Damai & Ceria April 19, 2010

Posted by in : Spiritualitas , add a comment

Ada suatu dialog antara anak dengan bapak seorang petani :

” le suk nek wus gedhe arep dadi opo ?

” dados tentara pak !”

” trus sing arep ngarit sopo ? le makani sapimu sopo, sawah kae arep dikapake suk nek bapak lan mbokmu mati ?”

Sang anak tercenung …. menjadi sebuah pilihan sulit. Di satu sisi ingin menunjukan ekstensinya bahwa dirinya tidak hanya dianggap bisa sekedar ngarit thok, angon wedhus, opo mung nyekeli pacul, di sisi lain juga berpikir nasib tanah yang kelak mau diapakan, apakah akan dijual pada cukong dan juragan dan tak lama lagi tanah akan berdiri megah sebuah istana, sawah hanya tinggal kenangan. Dhuh mbiyung ! Namun petani juga tak risau jika kelak anaknya jadi tentara, pegawe negeri, pejabat, pilot, yang penting jadi orang berguna bagi bangsa dan negara, migunani kanggo wong akeh, asal jangan jadi koruptor. Namun tak sedikit pula anak-anaknya yang masih setia meneruskan tradisi bapaknya, beberapa yang saya kenal seperti Pak Longgar yang setia menjadi tukang ngarit, bahkan dengan penuh candaan Romo Singgih mengatakan bahwa agama orang Ngargomulyo itu ngarit.

“Lha piye nek ora ngarit ora iso mangan je”

Ya memang kehidupan pedesaan hanya ada nyangkul dan nyangkul, ngarit dan ngarit. Irama kehidupan di lereng Merapi ini turun temurun sejak jaman dahulu kala. Mereka hidup dalam kesederhanaan, nrimo ing pandum, menerima segala sesuatu seperti apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurangi. Penerimaan yang cukup sederhana ini menjadi sebuah perenungan mendalam dalam jiwa saya yang masih terkontaminasi budaya kota, yang serba cepat, grusa-grusu. Stress adalah merupakan penyakit orang kota, bukannya orang tidak desa tidak bisa stress. Semua orang bisa stress, termasuk anda anda juga, namun stressnya orang kota berbeda dengan orang desa.

Hidup di desa memang sangat berbeda dengan di kota, hidup di kota kalo tidak bisa menyesuaikan diri akan tersingkir dari persaingan, siapa cepat dia dapat, siapa kalah dia celaka. Jangan harap pertolongan tonggo teparo. Saya pernah hidup di Jakarta, depan rumah saja tidak kenal, saya kerja dari pagi hingga malam, minggu pun pasti ada acara lain Demikian pula dengan tetangga ketemu dengan mereka palingan di jalan itupun juga cuwek. Berbeda dengan di desa, begitu anda dapat celaka, tetangga akan cepat membantu tanpa pamrih. Ini ciri khas bangsa kita yang masih dipelihara oleh warga desa seperti yang berada di Dusun Ngargomulyo Muntilan.

Dewasa ini terutama daerah perkotaan, masalah belum tentu diselesaikan dengan kekeluargaan, jika ada masalah sedikit lapor polisi dengan dalih melakukan perbuatan tidak menyenangkan orang lain. Kasus demi kasus bermuara pada permusuhan dan perkelahian, pergeseran sifat dari kekeluarga ke kecuekan merupakan hal yang susah dicari benang merahnya. Tuntutan ekonomi yang tinggi, beban pekerjaan terutama jam kantor yang panjang, tugas luar, macet di jalan merupakan masalah yang sampai kini justu semakin memburuk. Mereka sibuk mencari suatu yang instan, yang bisa memuaskan diri tanpa bersusah payah, yang penting : BAYAR ! uang menjadi senjata paling ampuh di dunia perkotaan, mau makan gratis kalo tidak ditraktir teman susah mendapatkan. Orang kota semakin hari semakin pelit, sekarang bertamu saja hanya dikasih aqua atau air bening ( bukan air putih ). Air bening memang menyehatkan tetapi belum tentu menyehatkan sikap kekeluargaan. Orang menjadi malas berkunjung dan anjangsana karena takut hanya disuguh air bening saja. Jika berkunjung ke desa, malah tak pernah mendapatkan air bening, semua airnya berwarna, anda akan mendapatkan air bening jika meminta dan itupun belum tentu ada kecuali yang mentah. Anda malah akan disuguh dengan hasil panen seperti ketela, pisang, salak, rambutan dan lain lain. Padahal itu saya lakukan sekedar numpang lewat, belum tentu kenal. Itulah sikap wong ndeso yang masih dipelihara, mereka akan menerima tamu siapa saja. Itulah sifat yang menjadi terbalik, jika anda bertamu di kota anda akan susah mendapatkan teh atau kopi jika tidak meminta, itupun jika ada, kalaupun ada yang punya rumah masih berkelit dengan alasan ekonomi, sebaliknya di desa anda akan kesulitan jika meminta air bening, adanya teh atau kopi. Bagi wong desa, tamu adalah orang yang kudu dihormati tidak perduli dia statusnya apa, tidak cukup dihargai dengan segelas air bening atau aqua gelasan, dalam budaya jawa itu sama saja dengan melecehkan tamu. Ora sopan menehi tamu banyu bening ! Sebaliknya orang kota menyuguhkan teh atau kopi pada tamu tak diundang merupakan pemborosan. Cukup air saja cing ! irit, instan, air mentah sekalian dan semoga tamu segera kabur D

Menjadi wong ndeso bukan merupakan suatu kemunduran, kesederhanaan mereka akan menular pada kita, saya pun mengalami perubahan pribadi yang lumayan berubah setelah mengalami interaksi dengan penduduk desa seperti Pak Longgar, Pak Jayus, Mas Gendhot Wukir, dan lain lain. Hidup itu sebuah penerimaan, bahwa anugerah dari Tuhan tidak akan pernah berhenti jika setiap orang mensyukuri, kita ini manusia serakah, diberi pasti merasa kurang, bahasa saya sih biasa menyebut : gratis njaluk apik atau murah njaluk sak karepmu. Hanya tingkat keserakahan masing-masing individu yang membedakan tingkat kesyukuran. Kalo yang bisa bersyukur secara positif alias tingkat keserakahannya rendah palingan doanya seperti ini ” Terima kasih Tuhan, walau Kau beri sedikit, aku akan berusaha lebih baik lagi”, namun kalo yang tingkat serakahnya besar palingan doanya juga pake ngancam segala “Tuhan, mengapa Engkau begitu kejam memberi aku hanya segini tidak sebanding dengan apa yang telah kukorbankan “. hahahahahahaha.

Wong ndeso memang damai dan ceria, mangan ora mangan kumpul. Alur kehidupannya tidak grusa-grusu layaknya orang kota yang selalu dikejar waktu, diajak rapat RT saja susahnya mintak ampun dengan seribu sejuta alasan yang dibuat-buat, tapi kalo diajak korupsi akan cepat bertindak menyembunyikan bukti, It’s okay ! Bor0-boro diajak rapat RT, lha wong ronda malam saja nggak mau, dah bayar aja satpam, kita-kita ini nyari duit.

Kembali ke desa adalah kembali ke khitah kita sebagai manusia, kembali ke desa adalah kembali ke alam, kembali kepada air yang merupakan sumber kehidupan.

Watak orang kota yang keras dan serba ingin cepat bertemu dengan wong ndeso yang sederhana, bahkan malah punya kesan, alon alon asal klakon. Sikap sederhana, nrimo ing pandum, ngajeni marang sing tuwo, mangan sak onone, semua itu ternyata ampuh untuk mengubah warga kota, terutama bagi mereka yang pernah mengikuti live in. Perubahan sikap anak-anak sekolah yang ikut live in diakui para guru-guru pembimbing. Dari sikap sok sembarangan menjadi kalem dan tertib, yang suka buang sampah sembarangan sekarang membuang sampah pada tempatnya. Yang suka rewel sarapan sekarang mau sarapan tanpa protes, mereka belajar pada wong ndeso, belajar pada budaya desa, belajar hidup sederhana, belajar menghargai sesama lewat ekplorasi edukasi berbasis alam dan budaya Merapi.